May 2012 - PPG SM-3T UNP
News Update:

SM-3T, Klimaks

Written By Irfan Dani on Friday, June 8, 2012 | 3:56 PM

Nampaknya saat ini adalah saat klimaks program SM-3T. Begitu banyak persoalan yang terjadi di lapangan. Mulai dari peserta yang diusir dari rumah tempat mereka tinggal selama ini, peserta yang melanggar nilai-nilai susila, peserta yang sakit (seperti biasanya), dan peserta yang terindikasi sedang menjalin hubungan dekat dengan perangkat kecamatan/desa, pemuda setempat, atau dengan sesama peserta SM-3T sehingga mengundang pandangan negatif.

Dua peserta yang diusir dari rumah tempat mereka tinggal itu, dituduh telah melakukan pencemaran nama baik atas seorang warga yang notabene adalah guru di sekolah tempat mereka mengajar. Guru itu sudah dianggap sebagai ibu mereka. Ketika mereka mendapatkan masalah, dengan maksud untuk berterus-terang, mereka mengungkapkannya pada guru tersebut. Tapi apa yang terjadi?

Entah karena caranya yang salah, atau karena hal lain, keterus-terangan mereka justeru membuat guru itu berang. Mereka dianggap mengada-ngada. Guru itu, yang juga adalah pemilik rumah yang mereka tinggali, marah besar, dan mengusir mereka dari sekolah, bahkan dari desa tersebut. Kebetulan suami guru itu adalah ketua komite sekolah, seorang pendeta, dan sangat berpengaruh di desa itu.  Kabarnya, kedua anak itu harus menyembelih babi untuk mengembalikan nama baik keluarga guru tersebut, namun tetap harus pergi dari desa dan sekolah. Sampai saat ini, kami masih terus berkoordinasi dengan dinas PPO untuk mengurai masalah tersebut.
    
Kondisi pelosok Sumba Timur yang sepi (namanya saja pelosok), jauh dari keramaian dan hiburan, kultur masyarakat tradisionalnya yang sulit diajak untuk melakukan sesuatu yang baru, yang mungkin berarti bagi kemajuan dan peningkatan taraf hidup mereka; membuat para peserta SM-3T ini seperti kurang kerjaan. Energi mereka yang berlebih menyebabkan mereka mulai berbuat aneh-aneh.  

Mereka pada umumnya berangkat dengan idealisme tinggi, dan terus memegang idealismenya. Bekerja dengan sepenuh hati untuk memajukan sekolah dan masyarakat tempat mereka mengabdi. Meskipun kepala sekolah tidak hadir karena jarak rumah dan sekolah yang sangat jauh dengan medan yang sangat sulit (sampai saat ini, ada satu sekolah, yang kepala sekolah hanya datang 6 kali; selama hampir 6 bulan), tidak ada pengawas, guru-guru PNS yang seringkali dihinggapi sakit M (Malas), peserta SM-3T tetap memegang teguh komitmen. Berbagi tugas mengisi kelas-kelas yang kosong karena guru yang seharusnya mengajar tidak masuk, memberi pelajaran tambahan bagi MPB (murid peringkat bawah) yang belum bisa baca tulis dan bagi siswa-siswa lain yang memerlukan, bergaul dengan masyarakat sekitar, bercocok tanam, dan melakukan aktifitas positif yang lain.

Namun bagi mereka yang tidak kuat memegang komitmen, hal-hal yang menjurus ke pelanggaran norma dan etika umum mulai dilakukan. Kultur di Sumba Timur, jujur saja, masih sangat kental dengan adat dan kebiasaan yang berlawanan dengan nilai-nilai luhur yang kita anut pada umumnya. Minuman keras menjadi minuman pembuka atau penutup di berbagai pertemuan resmi. Di situ, mulai dari pejabat dari kabupaten, perangkat kecamatan dan desa, kepala sekolah dan guru-guru, sangat leluasa minum-minuman; bahkan di depan murid-muridnya. Beberapa peserta SM-3T yang tidak 'kuat iman', terindikasi ketularan kebiasaan tidak terpuji itu.

Oleh karena setiap hari para peserta itu bergaulnya dengan teman yang itu-itu saja, maka berlakulah pepatah Jawa 'tresno jalaran soko kulino'. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa mereka adalah anak-anak muda yang sedang pada usia-usia 'masa kawin'. Beberapa pasang di antara mereka sudah 'jadian', mungkin puluhan. Ada yang dengan sesama peserta SM-3T Unesa, ada yang dengan peserta SM-3T universitas lain (di Sumba Timur, selain Unesa, juga ada UNM dan Unima). Yang bikin pusing dan perut mulas adalah kalau mereka jadian dengan orang-orang setempat, mulai dari pemuda desa, pegawai kecamatan, atau bahkan camat. Mereka selalu berusaha mencari kesempatan untuk plesir, kadang-kadang 'dibela-belain' meninggalkan tugas di sekolah. Tentu hal seperti ini sangat mengundang pandangan negatif, dan bisa merusak citra SM-3T dan sosok guru ideal yang sedang dipersiapkan melalui program ini. 

Bulan ini kami memulangkan tiga peserta karena melakukan pelanggaran berat. Tentu saja atas persetujuan Rektor dan Kepala Dinas PPO Sumba Timur. Prinsipnya, peraturan harus ditegakkan. Sekali kita membiarkan mereka melanggarnya, maka seterusnya mereka akan terus melakukan pelanggaran. Dikti memuji tindakan tegas kita, dan menyatakan hal itu juga akan diberlakukan di universitas lain penyelenggaran SM-3T.
Mereka ditugaskan sebagai 'agent of change', seharusnya menularkan hal-hal baik untuk membawa perubahan. Tidak justeru larut dan menjadi bagian dari tradisi negatif yang melanggar norma umum dan kesusilaan.

Puluhan peserta kami panggil atau kami beri peringatan keras, dan bila tidak ada perkembangan ke arah yang baik, maka tidak ada pilihan lain, mereka juga harus pulang. Pulang, tidak berarti hanya pulang saja. Namun juga harus mengembalikan seluruh biaya yang sudah mereka terima, mulai dari biaya tes, prakondisi, pemberangkatan, asrama, serta insentif dan bantuan biaya hidup. Sesuai kontrak yang mereka tandatangani, bila mereka melanggar perjanjian, misalnya karena melakukan tindakan yang berlawanan dengan nilai-nilai agama/moral/susila, apalagi kalau dinilai sebagai pelanggaran berat, maka mereka harus membuat surat pernyataan mengundurkan diri dari program SM-3T dengan segala konsekuensinya. Tiga peserta itu, telah melakukan penandatangan surat pengunduran diri dan kesanggupan untuk mengembalikan semua biaya yang sudah mereka gunakan/terima.

Inilah episode terberat SM-3T. Sebagai ibu mereka, sebenarnya hati saya teriris ketika melepas mereka. Bagaimana pun mereka telah menjadi bagian dari kami. Dalam waktu yang tidak singkat. Berbagi suka-duka bersama dalam segala situasi.
Apalagi semua dari mereka yang harus pulang itu adalah dari keluarga yang tidak berada. Mengembalikan semua biaya yang sudah mereka terima tentu akan menjadi beban berat tersendiri bagi mereka dan keluarganya.

Tapi kesempatan emas ini telah mereka sia-siakan. Hidup adalah pilihan. Dan setiap pilihan mengandung konsekuensi. Semua ini akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka, juga bagi teman-temannya yang lain, dan bagi kami semua.

Semoga
    
Umalulu dan Rindi, 9-12 Mei 2012

LN

Sumber:

http://2.bp.blogspot.com/-vTnFLfZ28mQ/TzItivKY_LI/AAAAAAAAADc/i4ZYPRYzhBg/s72-c/luthfiyah+nurlaela.png

Gong Belajar dan SM3T Gagal

GERAKAN Gong Belajar yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas PPO NTT dan program Sarjana Mengajar di Daerah Terluar, Terdepan, dan Terpencil (SM3T) dinilai gagal dalam memberikan dampak positif bagi pendidikan NTT. Buruknya persentase kelulusan di kabupaten yang menerima tenaga guru SM3T, salah satunya Kabupaten Kupang menjadi indikator gagalnya dua program ini.
Demikian dikatakan pengamat pendidikan NTT, Prof Dr Simon Sabon Ola kepada VN, Rabu (7/6). Sabon Ola mengatakan, tidak ada dampak SM3T dan Gong Belajar dalam pendidikan NTT karena hasil UN hanya meningkat 0,7 persen. “Kalau naik nol koma apa sumbangan Gong Belajar, apa sumbangan SM3T, dan apa sumbangan siaga UN yang menelan banyak biaya? Ini tanda tidak adanya kesungguhan pemerintah untuk menata pendidikan NTT,” ujar Sabon Ola.
Padahal, sepengetahuan dia, peningkatan itu bukan karena dampak Gong Belajar dan program SM3T, melainkan ketidakjujuran yang dilakukan dengan memberikan jawaban kepada anak-anak saat UN maupun mengatrol nilai ujian sekolah. “Saya menyesalkan kenapa tidak diawasi? Ini pertanda bahwa meningkatnya persentase itu hanya penipuan. Mereka menipu dan omong kosong belaka untuk melaksanakan UN,” kata Sabon Ola.
Anggota Komisi D DPRD NTT, Pata Vinsensiusmengatakan, dia bangga terhadap peningkatan hasil kelulusan UN tahun ini. Menurutnya, NTT mengalami peningkatan persentase kelulusan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Ini menunjukkan ada upaya dari Pemerintah NTT,” katanya. (cal/iin/H-1)

Sumber:

http://www.victorynewsmedia.com/v2/images/logo%20victory.png

Program SM3T Segera Dibuka. Antara Juni atau Agustus 2012

Written By Irfan Dani on Friday, June 1, 2012 | 4:51 PM

KUPANG - "Kalau tidak salah, Juni atau Agustus 2012 ini, Program SM3T Saraja Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertingga akan dibuka lagi. Karena itu, para sarjana pendidikan yang ada di NTT silahkan melamar. Penempatannya belum tentu kembali ke daerah." Hal itu disampaikan Drs. Agus Susilo Hadi mewakili Direktur Tenaga Pendidik dan Kependidikan dari Dikti, pada Seminar Pendidikan Daerah Kawasan Perbatasan di Hotel Kristal Kupang, Senin (28/5/2012).

Selain seminar, pada kesempatan itu juga dilakukan penandatangan MoU antara Pemkab Kupang dan Undana, Undana dengan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) maju bersama mencerdaskan Indonesia melalui Program SM3T. "Kalau tidak salah bulan Juni atau Agustus 2012 ini, program SM3T mulai dibuka. Jadi, sarjana pendidikan di NTT silahkan melamar," kata Agus Susilo.

menurut Agus Susilo pengalaman tenaga SM3T yang ada di Kabupaten Sumba Timur, ternyata ada yang sangat mengecewakan. Sebab, para tenaga SM3T itu lebih sering hilang atau tidak berada di tempat. Pada hal, lanjut dia, keberadaan SM3T itu sangat membantu terutama untuk mendata berbagai hal, misalnya mengenai gedung sekolah, siswa yang tidak aktif, juga siswa SMA yang berprestasi namun berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Dikatakannya, ada empat faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan. Pertama, sarana dan prasarana, berikutnya jumlah dan mutu guru, dukungan pemangku kepentingan serta budaya akademik. Untuk itu, lanjut dia, dua kebijakan besar yang akan dilakukan tahun 2012 untuk memperbaiki pendidikan guru, yakni perbaikan kurikulum lembaga penghasil tenaga kependidikan, dan perbaikan sistem seleksi.
PK-SELASA, 29 MEI 2012
 
Sumber: 
 http://nttprov.go.id
 
http://nttprov.go.id/provntt/templates/siteground71/images/header.jpg

Menganalisa Gong Belajar dan SM3T di NTT

FAJAR menyingsing bukan karena ayam berkokok, tetapi ayam berkokok karena fajar menyingsing. Begitulah gambaran “semangat zaman” yang diucapkan Bung Karno. Fajar menyinari jagat ini, diwarnai dua arah yakni fajar menyingsing dan fajar terbenam. Fajar menyingsing membuka hari baru dan mengantar aktivitas sebelum fajar terbenam.
Sebaliknya, fajar terbenam menutup hari dan mengantar orang pada peristirahatan malam setelah seharian beraktivitas memaknai fajar menyingsing. Itulah semangat zaman yang dimaknai oleh para aktor panggung kehidupan. Banyak actus untuk mencerahkan zaman oleh para aktor dunia ini. Salah satu aktornya adalah guru, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan kemanusiaan, pahlawan kehidupan.

Gong Belajar
“Gong Belajar” telah dicanangkan di Provinsi NTT sebagai gerakan moral membangun karakter peserta didik agar bersiplin menggunakan waktu belajar dan membudayakan anak untuk belajar pada waktu yang sudah disepakati. “Gong Belajar” juga merupakan sebuah gerakan untuk memotivasi siswa serta menyadarkan orangtua atau keluarga dan masyarakat agar lebih aktif melibatkan diri bersama sekolah dan pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di NTT sebagai suatu terobosan inovatif.
Dengan demikian, telah terbingkai suatu format kerja sama antara pihak sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah dalam mendukung perjuangan peserta didik yang adalah harapan masa depan baik keluarga, sekolah, bahkan bangsa dan negara. Tentunya, domain pendidikan dan guru merupakan pilar penentu keberhasilan program ini. Guru adalah garda terdepan dan ujung tombak penentuan keberhasilan dan prestasi siswa. Selain peran guru sebagai pengajar, guru juga memiliki fungsi pengawasan terhadap siswa di sekolah. Guru harus mampu menanamkan kesadaran dan kedisiplinan kepada siswa secara kontinyu. Keberlanjutan pengawasan memungkinkan siswa lebih terarah membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan sehingga membentuk knowledge, skill, attitude yang baik.
Tujuan pokok kehadiran guru di sekolah bukan semata-mata mengantar anak didik mendapatkan ijasah dan sekadar mencetak deretan daftar nilai ujian, tetapi lebih dari itu guru berperan mempersiapkan anak-anak didiknya untuk masa depan dan penataan hidupnya yang lebih bermartabat. Satu-satunya tuntutan dari hidup manusia modern yakni masuk dalam perubahan, di mana guru di sekolah mempersiapkan muridnya untuk hidup sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab.
Tujuan yang lebih berkaitan dengan proses menyadarkan orang bahwa kemampuan berpikir dan menentukan identitas diri menjadi lebih penting. Selain itu juga, sebagai proses, pendidikan dan guru berperan sebagai pembentuk watak/karakter manusia yang berpribadi utuh, rendah hati, loyal, bersahaja, adil, sabar, disiplin, dsb.
Etika watak mengajarkan bahwa ada orang hanya dapat mengalami sukses yang besar serta kebahagiaan sejati kalau mereka mengintegrasikan prinsip-prinsip ini dalam watak dasar mereka. Di belahan dunia mana saja, termasuk NTT, pendidikan dan guru merupakan elemen yang paling penting. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa semua penggalian potensi daerah bertumpu pada SDM, maka penyiapan SDM yang berkualitas menjadi salah satu target utama yang harus dijunjung tinggi. Banyak Negara dan daerah yang invest utamanya adalah pendidikan dengan tujuan mempersiapkan SDM generasi muda di masa mendatang.
Dengan demikian, daerah NTT dengan berbagai persoalan akan teratasi kalau kita menata aspek pendidikan dan SDM secara lebih adil dan merata. Mengapa? Karena segala tugas yang maha mulia untuk mewujudkan kesejahteraan bersama dapat terlaksana bila kita mau berpikir cerdas- bekerja keras, berpikir logis-bekerja tuntas serta berpikir global-beraktus lokal berlandaskan keikhlasan, kejujuran, adil, disiplin dan memiliki etos kerja yang tinggi dalam membangun NTT.
Pemerintah Daerah telah menyediakan wadah “Gong Belajar” untuk meningkatkan mutu pendidikan NTT yang berkualitas, relevan, efisien dan efektif sehingga dapat dijangkau masyarakat. Dalam konteks ini, walau dengan nada pesimis karena anjlok/buruknya persentasi kelulusan UN tahun 2012 namun perlu disadari bahwa ada benih perjuangan dan buah kesuksesan yang telah kita tuai bersama di NTT.

SM-3T di NTT
Selain program “Gong Belajar”, pemerintah pusat menciptakan “program SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan). Di seantero NTT, kita pernah digegerkan dengan kehadiran guru-guru SM-3T yang ditempatkan di daerah NTT. Hal ini menjadi bukti bahwa NTT adalah salah satu daerah tertinggal dan terluar yang perlu mendapat suntikan tenaga pendidik yang handal dan terpercaya. Suntikan tenaga pusat yang begitu melimpah menunjukkan kepedulian serta perhatian pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah NTT. Namun, kebijakan pemerintah pusat ini ternyata menimbulkan pro-kontra tentang kehadiran guru SM-3T di NTT.
Banyak perdebatan tentang kebijakan ini, yang dinilai menganaktirikan NTT dan hanya menempatkan NTT sebagai daerah penerima program SM-3T dari pusat. Muncul banyak pertanyaan; apakah sarjana pendidikan output Perguruan Tinggi NTT kurang berbobot, kurang berkualitas dan kalah bersaing dengan sarjana dari daerah di luar NTT? Hasilnya muncul pro–kontra, banyak opini menerima dan menolak.
Hemat saya, kita orang NTT tidak perlu berdebat tentang kebijakan nasional ini. Guru-guru SM-3T itu bagaikan duta atau utusan pusat yang datang untuk membangunkan kita dari tidur lelap kita. Memang kita menyayangkan kebijakan ini tetapi apalah artinya kita terlena dalam perdebatan karena keputusan konstuktif dari pusat. Kedatangan guru SM-3T di NTT bagaikan fajar baru menyingsing dengan tenaga dan semangat baru. Berdamailah dengan mereka agar mereka mengabdi secara tulus dan berkomitmen di wilayah NTT. Guru SM-3T senyumlah dalam menyelamatkan pendidikan di NTT. Selamatkan generasi muda NTT menjadi generasi yang mampu bersaing dengan generasi muda dari daerah-daerah lain di luar NTT. Cerdaskan putera/puteri NTT lewat program SM-3T.
Maka tak perlu berdebat atau ribut tetapi mungkin baik kalau kita saling bahu membahu dan berdamai dengan program SM-3T untuk mendukung dunia pendidikan di NTT. Kita perlu mendukung guru-guru baik di NTT maupun guru SM-3T yang berperan penting dalam aktus pencerdasan. Tanpa membeda-bedakan kita adalah produk secara langsung dari jamahan bapak/ibu guru yang telah membesarkan otak kita. Bapak/ibu guru sangat berperan di dalam aktus pencerdasan. Fakta historis telah menunjukkan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia dimulai secara nyata dari adanya kecerdasan. Kecerdasan dapat berfungsi setelah disentuh oleh pendidikan dan para penyentuhnya adalah para guru di sekolah. Kecerdasan adalah aset utama untuk melestarikan bangsa itu sendiri. Apapun yang dimiliki oleh suatu bangsa tak akan berarti bila pengelolaannya tidak dilandasi oleh kecerdasan. Akhirnya dengan sedikit spirit kecerdasan yang kita miliki mari sekali lagi kita mengucapkan proficiat buat guru dan berdamailah dalam membangun dunia pendidikan NTT.
Yohanes Seo
Alumnus FFA
Unwira Kupang 

Sumber: 

victory news media 

SM3T tak Menjawab Persoalan Mutu

KEHADIRAN Sarjana Mengajar di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan (SM3T) di NTT sebagai solusi mengatasi kekurangan guru dan perbaikan mutu, dikritisi oleh forum komunikasi mahasiswa FKIP se-NTT. Forum ini menilai program SM3T tidak menjawab persoalan mutu pendidikan di NTT.
“Program SM3T tidak bisa menjawab persoalan mutu pendidikan di NTT. Kebijakan pemerintah pusat ini tidak bisa diterapkan di daerah yang kondisinya berbeda. Intinya kami tetap menolak kebijakan desentralisasi,” jelas Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa FKIP se-NTT, Sandhy Neolaka kepada VN, Kamis (31/5).
Menurutnya, kebijakan ini sebenarnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah meskipun sedikit terkait dengan pemerintah pusat. Berbicara mengenai peningkatan mutu pendidikan di setiap daerah, kondisinya berbeda. Sehingga tidak bisa diambil satu keputusan bahwa ada satu kebijakan dari pemerintah pusat yang turun langsung ke NTT untuk mengatasi masalah mutu pendidikan.
Buktinya, persentase kelulusan NTT tetap menjadi juru kunci untuk tingkat SMA/SMK, bahkan ini sudah berlangsung tiga tahun berturut-turut.
“NTT sendiri mengalami beberapa persoalan, seperti kekurangan guru PNS, guru profesional, guru yang berkompeten, ketidak sesuaian bidang studi dan pendistribusian guru yang tidak merata,” katanya.
Ia juga menjelaskan, untuk meningkatkan mutu pendidikan di NTT karena beberapa persoalan itu, program SM3T seharusnya mengirim guru-guru yang profesional dan berpengalaman. Mereka tidak bisa menjawab persoalan-persoalan itu, apalagi NTT sudah memiliki banyak sarjana pendidikan.
“Program SM3T di NTT dan dikelola Undana sama saja dengan Undana menerima program yang tidak mampu dijalankan. Karena program sertifikasi 10.000 guru yang dijalankan, Undana sangat kewalahan. Mahasiswa yang akan dikorbankan. Konsentrasi dosen tidak pada mahasiswa lagi tapi pada program-program pemerintah yang orientasinya pada proyek,” papar dia.
Wakil Direktur Pendidikan dan Ketenagaan Dirjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, Agussusilo Hadi, mengatakan, program ini adalah solusi mengatasi kekurangan guru di daerah terpencil.
Menurutnya, tenaga SM3T bukan tenaga honor ataupun bukan guru, tapi calon guru yang sedang mengambil program PPG (pendidikan profesi guru) untuk benar-benar mengerti dan memahami tugasnya ketika kelak menjadi guru. (P-1)

maria
@victorynewsmedia.com 
Sumber:

http://www.victorynewsmedia.com/v2/images/logo%20victory.png

Program SM3T Solusi Atasi Kekurangan Guru

Written By Irfan Dani on Wednesday, May 30, 2012 | 11:22 AM


 

KUPANG - Program Sarjana Mengajar di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan merupakan solusi mengatasi kekurangan guru di daerah terpencil, kata Wakil Direktur Pendidikan dan Ketenagaan Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Agussusilo Hadi.

"Program Sarjana Mengajar di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan (SM3T) yang diluncurkan sejak 2010 cukup membantu mengatasi kekurangan guru di daerah terpencil," katanya di Kupang, Selasa (29/5).

Ia mengatakan bahwa kekurangan guru selama ini menjadi salah satu masalah pelik dunia pendidikan dan bahkan selalu menjadi alasan pembenar bagi buruknya mutu pendidikan di daerah Terluar, Tertinggal dan Terdepan.

Agussusilo Hadi, berada di Kupang dalam rangkaian kegiatan penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama Bupati Alor, Manggarai Timur dan Rote Ndao (Terluar Tertinggal dan Terdepan) dan Seminar Pendidikan Kawasan Daerah Perbatasan di NTT.

Ia mengatakan, program ini berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi ke daerah-daerah yang menjadi sasaran program SM3T, mendapat sambutan positif, karena cukup membantu siswa di sekolah-sekolah yang kesulitan pendidik, sehingga tidak teratur mengikuti pelajaran.

Artinya, kata Agussusilo Hadi, kehadiran tenaga SM3T tidak lantas menyulap semua persoalan yang ada di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan menjadi tuntas semuanya, tetapi paling tidak, dapat membantu meringankan tugas dan beban di sekolah itu.

"Selain itu, kehadiran tenaga SM3T ini juga dapat mengidentifikasi dan mencatat siswa yang mampu secara akademik, tetapi tidak mampu secara ekonomis dan ketersediaan guru dan infrastruktur di sekolah yang di tuju dan sekitarnya, sebagai bahan pembanding bagi Kemendiknas," katanya.

Ia mengatakan, untuk tahap awal, tenaga SM3T di NTT ditempatkan di 10 kabupaten dan akan terus bertambah atau berkurang, sesuai dengan hasil monitoring dan evaluasi terhadap keberadaan dan kinerja kerja ditempat tugas.

Bagi tamatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di NTT, pada 2012 ini dibuka kesempatan untuk mendaftar dan mengikuti seleksi pada tenggat waktu Juni hingga Agustus 2012 untuk selanjutnya ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia.

Dia menegaskan, tenaga SM3T bukan tenaga honor atau pun juga bukan guru, tetapi merupakan calon guru yang sedang mengambil program PPG (Pendidikan Profesi guru) untuk benar-benar mengerti dan memahami tugasnya ketika kelak menjadi guru.

Sehingga tidak perlu diributkan di NTT, mengapa belum kebagian dan bentuk penolakan lainnya, karena menjadi tenaga SM3T, banyak konsekuensinya karena ditempatkan di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan.

"Tetapi kita menghargai semangat anak-anak NTT dan menunggu mereka yang ingin menjadi tenaga SM3T nanti di Aceh, Kalimantan dan Papua atau daerah lain yang masuk kategori Terluar Tertinggal dan Terdepan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta ini," katanya.
(Ant)

Sumber: 
http://www.shnews.co/templates/temp_sh/images/logo_trs.png

Bersekolah Lewat Sungai

 
 
Kupang --- Siswa-siswi SMA Negeri 1 Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus melalui jalan berliku, naik turun bukit, dan melewati beberapa sungai untuk sampai ke sekolah mereka. Sekolah yang berada sekitar 120 kilometer dari kota Kupang ini terpencil dan minim sarana komunikasi. Sinyal telepon seluler tidak akan ditemui di daerah ini.
Lulusan Jurusan Pendidikan Kimia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Nayudin Hanif, ditugaskan untuk mengajar di sekolah tersebut. “Setelah lulus dari UPI pada 21 Desember 2011, saya memutuskan meninggalkan tanah kelahiranku di Serang, Banten, dan ditugaskan di sini,” katanya pria lolos seleksi program SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).
Nayudin menceritakan, sebagian besar siswa harus melewati satu atau dua sungai untuk bisa sampai ke sekolah dengan perjalanan paling jauh lima kilometer. Kondisi ini lebih parah pada musim hujan seperti semester ini. Kondisi jalan berlumpur dan air sungai meluap hingga terpaksa semua siswa harus melepas sepatunya. Kondisi inilah yang menyebabkan sebagian besar siswa banyak yang tidak masuk atau terlambat sekolah.
Pada saat lonceng di sekolah berbunyi, kegiatan yang dilakukan sebelum atau setelah proses belajar mengajar adalah apel. Siswa berbaris rapi kemudian berdoa dipimpin oleh petugas yang ditunjuk. Setelah itu, mendengarkan pengarahan dari guru piket sebelum masuk kelas untuk kegiatan belajar mengajar ataupun pulang ke rumah. “Jumlah siswa yang apel pada saat pertama kali saya datang di sekolah ini hanya belasan siswa,” tuturnya.
Hal ini karena tata tertib dan kedisiplinan yang diterapkan tidak berjalan dengan semestinya, baik guru maupun siswa. Butuh waktu dua bulan agar tata tertib dan kedisiplinan ini berjalan.
Seperti layaknya sekolah yang lain, SMA Negeri 1 Amarasi Timur pun kini mulai menggalakkan kembali kegiatan upacara bendera pada setiap Senin. “Inilah tantangan pertama yang harus saya hadapi bersama satu teman guru SM-3T dari Undiksha Bali,” kata Nayudin.
Banyak kejadian menarik saat pertama kali melaksanakan upacara bendera, seperti di tengah lapangan banyak kotoran sapi, bendera yang bolong-bolong digigit tikus karena jarang dipakai. Hal ini karena jarang melakukan kegiatan upacara bendera. Tapi kini semuanya mulai dibenahi.
Tidak mudah melakukan perubahan sesuai dengan program yang akan diterapkan di sekolah ini. Setelah diberikan pemahaman kemudian menyosialisasikan program atau kegiatan yang akan dilakukan, secara bertahap akhirnya beberapa kegiatan terlaksana. Di antaranya kegiatan ekstrakurikuler, pendampingan belajar siswa di luar jam pelajaran, layanan bimbingan bagi siswa yang membutuhkan, peningkatan kesadaran kebersihan dan pengelolaan lingkungan dan lain-lain.
Minat dan motivasi belajar siswa sangat kurang, diperparah lagi kemampuan dasar yang seharusnya mereka dapatkan di SD dan SMP merupakan hambatan terbesar untuk memahami pelajaran di SMA. Hasil tes kemampuan awal matematika kelas XI IPA saat pertama kali masuk di awal semester sungguh memprihatinkan.
Hampir semua jawaban hasil tes matematika setiap siswa salah. Kondisi inilah yang harus diatasi semua guru peserta SM-3T . “Oleh sebab itu, saya perlu banyak belajar bagaimana cara mengajar yang efektif sehingga tercipta generasi yang unggul,” tuturnya.
Walaupun demikian, semua kondisi yang telah dialami Nayudin merupakan pengalaman yang menarik. Nilai positif yang dapat diambil dari kehidupan masyarakat di sini adalah selalu menjaga kebersihan, memiliki jiwa sosial yang tinggi, serta menjunjung tinggi adat dan budaya. (Laporan: Nayudin Hanif)

Sumber:
http://www.kemdiknas.go.id

Laporan Program SM3T UNP

Sehubungan dengan finalisasi kelengkapan bahan pelaporan Program SM3T Universitas Negeri Padang, dengan ini diberitahukan kepada seluruh peserta Program SM3T Universitas Negeri Padang di daerah sasaran kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Ende agar melengkapi bahan-bahan pelaporan dengan data sebagai berikut:

1. Jumlah guru yang ada di setiap sekolah tempat bertugas (Guru Kelas, Guru Bidang Studi)
2. Jumlah siswa per sekolah
3. Jumlah kelas yang baik (layak pakai) dan yang tidak baik berapa
4. Jumlah guru yang tidak menerima tunjangan daerah terpencil
5. Jumlah siswa yang pantas menerima beasiswa, tetapi kenyataannya tidak menerima beasiswa
6. Khusus jenjang pendidikan SMA, harap mengusulkan nama calon siswa yang akan diikutsertakan dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur BIDIK MISI
7. Cerita monumental yang dialami selama mengabdi di daerah sasaran
8. Foto-foto tentang kerusakan ruangan kelas, labor, perpustakaan, dan lain-lain yang tergolong parah
9. Masalah dalam pembelajaran dan solusi yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut
10. Harapan bagi sekolah tempat bertugas di masa yang akan datang setelah meninggalkan sekolah tersebut.
Data-data yang dikirimkan tersebut harus dilengkapi dengan biodata sebagai berikut:
Nama:
Tempat Lahir:
Tanggal Lahir:
Jenis Kelamin:
Bidang studi yang diampu:
Sekolah tempat penugasan:
Kecamatan:
Kabupaten:
Alamat Lengkap:
No HP:
e-mail:
Kami minta data-data tersebut dikirimkan paling lambat tanggal  8 Juni 2012 ke mail :
 
Sumber: 
http://baak.unp.ac.id/templates/spar_profi_v01/images/Header.jpg

Program SM3T Solusi Atasi Kekurangan Guru

POLEMIK soal keberadaan Sarjana Mengajar di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan (SM3T) akhirnya teratasi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ri menegaskan bahwa program ini adalah solusi terbaik mengatasi kekurangan guru di daerah terpencil.
“Program Sarjana Mengajar di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan (SM3T) yang diluncurkan sejak 2010 cukup membantu mengatasi kekuarangan guru di daerah terpencil,” jelas  Wakil Direktur Pendidikan dan Ketenagaan Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Agussusilo Hadi kepada wartawan di Kupang, Selasa (29/5).
Menurutnya, kekurangan guru selama ini menjadi salah satu masalah pelik dunia pendidikan dan bahkan selalu menjadi alasan pembenar bagi buruknya mutu pendidikan di daerah Terluar, Tertinggal dan Terdepan.
Hadi berada di Kupang dalam rangkaian kegiatan penandatanganan MoU antara Undana dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama Bupati Alor, Manggarai Timur dan Rote Ndao.
Ia mengatakan, program ini berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi ke daerah-daerah yang menjadi sasaran program SM3T, mendapat sambutan positif, karena cukup membantu siswa di sekolah yang kesulitan pendidik, sehingga tidak teratur mengikuti pelajaran.
Artinya, kata dia, kehadiran tenaga SM3T tidak lantas menyulap semua persoalan yang ada di daerah Terluar Tertinggal dan Terdepan menjadi tuntas semuanya, tetapi paling tidak, dapat membantu meringankan tugas dan beban di sekolah itu.

Tak Perlu Ribut

Ia mengatakan, untuk tahap awal, tenaga SM3T di NTT ditempatkan di 10 kabupaten dan akan terus bertambah atau berkurang, sesuai hasil monitoring dan evaluasi terhadap kinerja kerja di tempat tugas. “Bagi tamatan FKIP di NTT, pada 2012 ini dibuka kesempatan untuk mendaftar dan mengikuti seleksi pada tenggat waktu Juni hingga Agustus 2012 untuk selanjutnya ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.
Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Dr H Syamsu Qamar Badu, juga menjelaskan, tenaga SM3T bukan tenaga honor atau pun juga bukan guru, tapi calon guru yang sedang mengambil program PPG (pendidikan profesi guru) untuk benar-benar mengerti dan memahami tugasnya ketika kelak menjadi guru.
Jadi tidak perlu diributkan di NTT, mengapa belum kebagian dan bentuk penolakan lainnya, karena jadi tenaga SM3T, banyak konsekuensinya karena ditempatkan di daerah terluar tertinggal dan terdepan. (ant/P-1) 

Sumber:
 http://www.victorynewsmedia.com/v2/images/logo%20victory.png

Pemerintah Dukung Keberadaan SM3T

Written By Irfan Dani on Tuesday, May 29, 2012 | 8:43 AM

ENDE, Timex-Pemerintah Kabupaten Ende terus mendukung keberadaan program Sarjana Mendidik Terdepan, Terluar dan Terbelakang (SM3T) di Kabupaten Ende. Hal ini dikarenakan kehadiran mereka sangat membantu pendidikan di Kabupaten Ende yang hingga kini masih kekurangan guru.

Demikian dikatakan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ende, Constantinus Djara, Selasa (22/5) di ruang kerjanya. Dikatakan, hal ini juga disampaikan oleh Sekretaris Daerah, Yos Ansar Rera saat menggelar evaluasi keberadaan SM3T yang berasal dari Universitas Negeri Semarang beberapa waktu lalu.

Dikatakan Cons Djara, kehadiran para tenaga SM3T tersebut sangat membantu dunia pendidikan di Ende. Apalagi, tandasnya, di Kabupaten Ende sendiri masih kekurangan tenaga pengajar. Dikatakan, Sekretaris Daerah, Yos Ansar Rera juga di hadapan para tenaga SM3T dari Universitas Negeri Semarang mengatakan hal yang sama. Pemerintah Daerah sangat mengharapkan program ini terus berlanjut untuk tahun-tahun mendatang.

"Pak Sekda sangat mengharapkan itu. Namun dirinya memberikan masukan agar ke depan program ini harus dimulai awal tahun ajaran baru, sehingga mereka bisa membimbing para siswa sejak awal, bukan di tengah jalan seperti sekarang ini," kata Cons Djara. Ia juga mengatakan, pada kesempatan evaluasi itu hadir juga Rektor Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. H. Suardjono Sastromodjo yang sekaligus mencatat dan diteruskan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sementara itu, berdasarkan evaluasi para tenaga SM3T juga dikeluhkan soal sarana transportasi dan komunikasi yang terbatas. Meski demikian mereka tetap menjalankan aktivitas dengan penuh tanggung jawab. "Mereka keluhkan transportasi dan komunikasi. Karena di beberapa tempat belum ada signal HP. Selain mengajar mereka juga butuh komunikasi intra mereka untuk sesuatu kegiatan," kata Cons Djara. Namun secara umum mereka sudah bekerja maksimal di daerah.

Sekretaris Dinas PPO, Cons Djara juga mengatakan, berdasarkan apa yang disampaikan Rektor Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. H. Suardjono Sastromodjo untuk tahun ajaran 2011/2012 universitas yang dipimpinnya membuka bea siswa bagi pelajar SMA yang hendak kuliah di sana. Kurang lebih 1.500 mahasiswa dari seluruh Indonesia akan diberikan kesempatan mengikuti program bea siswa.

Karena itu, kepada para siswa di Ende dirinya juga mengharapkan agar bisa menggunakan kesempatan ini. "Segala persyaratan dan lain-lain semuanya melalui internet, jadi silahkan mencari dan mengklik di internet," sebut Cons Djara. Bea Siswa ini, lanjut Cons Djara, mengutip Rektor Unversitas Negeri Semarang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sehingga dirinya juga mengharapakan para siswa yang berasal dari Kabupaten Ende bisa ikut dalam bea siswa ini.

Program SM3T di Kabupaten Ende berasal dari 3 perguruan tinggi yakni Universitas Negeri Jogja, Univeritas Negeri Padang dan Universitas Negeri Semarang. Untuk Universitas Negeri Semarang sebanyak 94 mahasiswa diterjunkan di sejumlah sekolah mulai dari SD hingga SMA yang ada di kota maupun di pedesaan. (kr7/ito)   

sumber: http://www.timorexpress.com

Undana dan UNG Sepakat Wujudkan SM3T

UNIVERSITAS Nusa Cendana (Undana) bersama Universitas Negeri Gorontalo (UNG) siap merekrut tenaga sarjana mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (SM3T). Kesepakatan ini merupakan bagian dari kerja sama antara Undana dan UNG, yang ditekan di Hotel Kristal Kupang, Senin (28/5).
“Undana siap merekrut tenaga SM3T sesuai kesepakatan spesifik yang tercantum dalam MoU antara Undana dengan UNG,” kata Pembantu Rektor I Undana, Dr David Pandie kepada VN, Senin (28/5).
Ia menjelaskan, penandatangan MoU ini adalah bagian lain dari satu ikatan konsorsium Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia Timur. UNG berada pada wilayah dengan kondisi yang sama dengan NTT. Karena itu, UNG mau bekerja sama dengan Undana. “MoU ini untuk wujudkan program SM3T yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) salah satunya UNG. UNG juga punya wilayah yang sama dengan NTT jadi tidak sulit berkoordinasi,” katanya.
Menurutnya, Undana juga sudah menyampaikan ke pusat tentang situasi pelaksanaan program SM3T di NTT. “Kita menunggu eksekusi dari pusat untuk mewujudkan hal ini. Undana sangat siap untuk menyeleksi tenaga SM3T,” katanya.
Rektor UNG, Dr H Syamsu Qamar Badu mengatakan,  MoU yang diteken  meliputi banyak hal yang bisa dikerjakan secara bersama untuk memajukan pendidikan di dua wilayah ini. Selain SM3T, dapat dilakukan usaha peningkatan SDM melalui pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen dan penelitian bersama. “Saya berharap tahun ini kerja sama ini berjalan,” kata Badu.
Kepala Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Dirjen Dikti, Totok Bintoro, mengakui bahwa program SM3T sudah dikoordinasi dengan pemprov NTT melalui gubernur. Tetapi, kata dia, perekrutannya diberikan kepada LPTK pengirim termasuk UNG. “Saat ini akan diperluas perekrutannya kepada LPTK lain di Indonesia termasuk NTT.  Tentu data kekurangan guru harus jelas. Semua masukkan akan dipertimbangkan dengan Dirjen PT di Jakarta,” katanya. (cal) 

Sumber:
 http://www.victorynewsmedia.com/v2/images/logo%20victory.png

Tiga Guru SM-3T Hamil: Seorang Karena Terpaut Cinta Penjaga Sekolah

Waingapu.Com - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) terus melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. Salah satunya dengan meluncurkan Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T). Namun apa hendak dikata, program ini dalam aplikasinya di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Diantaranya sejumlah sarjana yang mengikuti program ini harus mundur sebelum masa kontrak berakhir karena berbagai alasan, diantaranya karena ‘hamil duluan’.
Kasus peserta program SM-3T hamil diluar nikah itu beberapa pekan terkahir menjadi bahan perbincangan di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Din-PPO) setempat, membenarkan bahwa tiga orang  telah dipulangkan ke daerah asalnya karena diketahui hamil.
“Ketentuan dan persyaratan mereka ketika melamar untuk mengikuti program SM-3T ini adalah tidak boleh menikah atau kawin selama mengikuti program ini. Ini bukan aturan yang kami buat sendiri namun merupakan aturan pusat. Juga dalam melaksanakan tugasnya harus bisa memberi suri teladan yang baik bagi masyarakat di wilayah dia mengabdi pada umumnya dan para peserta didik di tempat ia mengajar. Ada yang kemudian diduga sebelum kesini sebenarnya telah hamil namun seiring berjalannya waktu baru diketahui hamil, namun ada pula yang hamil karena menjalin cinta dengan penjaga sekolah lalu hamil,” tandas Obed Hilungara, Kepala Dinas (Kadis) PPO Sumtim kala ditemui usai menggelar rapat koordinasi dengan para koordinator SM-3T di aula Din-PPO Jumat (25/05) siang kemarin.
Lebih jauh dijelaskan Obed,  ketiganya diketahui hamil sekitar pertengahan bulan Mei tahun 2012 ini. “Total ada tiga orang yang kemudian diketahui hamil. Dua diantarnya kemungkinan besar hamil karena menjalin cinta dengan sesama rekan SM-3T, dan seorangnya lagi hamil karena menjalin asmara dengan oknum penjaga sekolah,” jelas Obed.
Konsekwensi dari kejadian itu, ketiganya dibebankan kewajiban untuk mengembalikan kerugian Negara, berupa gaji mereka selama bertugas dan biaya  lainnya yang telah dikeluarkan oleh Negara selama mengikuti program dari awal hingga kemudian diketahui hamil.
Dalam rapat koordinasi yang digelar sebelumnya, jajaran Din-PPO setempat meminta para peserta Program SM-3T yang bertugas di Sumtim untuk menghindari perilaku-perilaku buruk yang biasa dilakukan di daerahnya dan sulit diterima oleh kultur dan kebiasaan masyarakat tempatnya bertugas.
“Kalau ditempat anda biasa pulang kuliah, tiba di kos atau di rumah biasa pakai pakaian simple dan minim, ya tolong di sini perilaku itu sedapat mungkin dihindari. Karena bisa saja memancing hal-hal negatif terjadi. Apalagi tempat anda bertugas masih sangat terbatas kualitas SDM masyarakatnya. Saya sudah sering mendapat laporan dan rumor tentang hal itu,” tandas Obed.
Kabupaten Sumtim mendapat alokasi 338 orang peserta program SM-3T yakni berasal dari Universitas Negeri Manado (Unima), 37 orang, Universitas Negeri Makassar (UNM)  60 orang, dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 241 orang. (ion)

Sumber:  http://www.waingapu.com

Lihat Hasil UN

Written By Irfan Dani on Saturday, May 26, 2012 | 11:11 AM

Halaman berikut menyajikan informasi mengenai Hasil UN Peserta Didik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Surabaya pada Tahun Ajaran 2011/2012.

Lihat Hasil UN

Masukkan nomor UN Peserta Didik
Informasi Gunakan 14 digit No UN seperti yang digunakan pada proses pendaftaran.


Info selengkapnya kunjungi :
http://www.ppdbsurabaya.net/hasil/un.jsf

PENGUMUMAN UJIAN NASIONAL ONLINE SMK DINAS PENDIDIKAN PROVINSI DKI JAKARTA

Selamat datang diaplikasi Pengumuman Hasil Ujian Nasional On-Line SMK khusus DKI Jakarta

Silahkan pilih server berdasarkan lokasi sekolah masing-masing,
misal SMKN 22 Jakarta maka pilih JAKARTA TIMUR.



JAKARTA PUSAT
JAKARTA SELATAN
JAKARTA BARAT
JAKARTA TIMUR
JAKARTA UTARA
MIRROR SERVER

Panduan bagi siswa/i :
  1. Sebelum memilih lokasi server pastikan anda hafal atau melihat kartu ujian anda, untuk memastikan, nomor ujian anda.
  2. Password untuk melihat hasil ujian terdiri dari 6 digit angka yang terdiri dari 2 digit tanggal lahir, 2 digit bulan lahir, dan 2 digit tahun lahir, misal : Nanda tanggal lahir, 2 Maret 1993, maka passwordnya adalah 020393.
  3. Masukkan kode ujian anda pada form yang tersedia kemudian klik/pilih "Lihat Hasil"
  4. Setelah muncul hasil ujian anda, cek kembali, nama, dan nilai anda.
  5. Silahkan pilih Cetak hasil ujian, untuk mencetaknya ke printer.
SMKDKI.NET
Support by Alan


Sumber: http://uan.smkdki.net/petunjuk.html

Pengumuman UN 2012 Secara Online

Pengumuman Ujian Nasional SMK/SMA/MA 2012 secara resmi dan serentak di seluruh Indonesia besok tanggal 26 Mei 2012. Banyak cara untuk mengumumkan Hasil UN 2012 kepada siswa-siswi suatu sekolah. Diantaranya Pengumuman UN SMK/SMA/MA 2012 dikirim melalui pos, dikirim melalui kurir, mengundang orang tua atau wali murid ke sekolah, memberikan langsung ke murid, melalui email, melalui sms, melalui koran serta secara online di Internet. Salah satu contoh yang diumumkan secara online dan juga melalui website adalah Pengumuman UN Kota Surabaya. Anda dapat melihat di http://www.ppdbsurabaya.net/hasil/un.jsf dan juga untuk SMAN 2 Ungaran yang dapat anda lihat di dpkabsemarang.org atau di http://sman2ungaran.sch.id/.Untuk pengumuman melalui Koran dilakukan untuk Kota Bekasi. Pengumuman lewat email dilakukan SMK Tunas Harapan Pati dapat anda intip disini.
Untuk SMK di DKI JAKARTA INFORMASI KELULUSAN DAPAT DIAKSES PADA TANGGAL 26 MEI 2012 PUKUL 10.00 PADA ALAMAT (http://uan.smkdki.net/) LOGIN MENGGUNAKAN NOMOR UJIAN DAN PASSWORD MENGGUNAKAN TANGGAL LAHIR
Hal tersebut adalah untuk mempermudah penyampaian informasi Hasil UN SMA/SMK/MA 2012 kepada siswa.

Bagaimana di sekolah anda?

Hal ini juga untuk mencegah keributan yang kerap terjadi, saat pengumuman kelulusan. Keributan dan corat-coret, konvoi, menjadi aksi selanjutnya.

Pihak sekolah juga diminta tegas menghadapi siswanya. "Sedikit gertakan juga tidak ada masalah. Kalau perlu sekolah dikunci. Jangan sampai ada gerombolan siswa nongkrong. Kalau kedapetan lansung bubarkan, ini adalah himbauan aparat agar pengumuman kali ini tidak menganggu masyarakat umum. Pihak kemanan juga akan menerjukan petugas-petugasnya ke sekolah untuk mengantisipasi hal tersebut.

Tetap Semangat !! Smoga Lulus Semua !!!
 
Sumber: http://hanya-kutipan.blogspot.com

Pengumuman Hasil UN SMA/MA/SMK 2012


Pengumuman Hasil UN SMA/MA/SMK 2012

    Pengumumuan hasil ujian nasional untuk SMA/ MA/ SMK 
akan diumumkan pada tanggal 26 Mei 2012.

Kunjungi:

Kemdikbud Siapkan Langkah Khusus Bantu Sekolah Dengan Kelulusan Nol Persen

Jakarta --- Dari hasil pemetaan nilai UN yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, di Gedung Kemdikbud, Kamis (24/05), diketahui bahwa ada empat sekolah yang memiliki kelulusan nol persen. Total siswa tidak lulus dari keempat sekolah tersebut adalah 41 orang.
“Sekolah-sekolah tersebut dua berada di Sumatera Utara, satu di Maluku Utara, dan satu di Sulawesi Tenggara,” papar Mendikbud dihadapan rekan media. Untuk keempat sekolah tersebut, kata Mendikbud, akan disiapkan intervensi khusus untuk membantu mereka. Karena dengan langkah tersebut, telah terbukti membantu sekolah yang tahun lalu tidak lulus seratus persen membenahi kualitasnya, dan lulus seratus persen pada tahun ini. “Intervensinya sesuai dengan permasalahan yang mereka hadapi,” tuturnya.
Salah satu langkah yang disiapkan untuk sekolah Dorema di Sumatera Utara, misalnya. Setelah dianalisis, diketahui bahwa nilai rata-rata UN murni terutama Matematika dan Bahasa Inggris, kecil. Guru yang mengajar pun tidak sesuai latar belakangan pendidikan dan mata pelajaran yang diajarkan. Guru-guru tersebut juga belum memperoleh sertifikasi.
Menyikapi hal tersebut, Kemdikbud menyiapkan setidaknya empat langkah intervesi. Pertama, meningkatkan kompetensi dan sertifikasi bagi seluruh guru mata pelajaran melalui program pelatihan. Kedua, penugasan guru sesuai latar belakang, ketiga, meningkatkan sarana dan prasana seperti laboratorium dan perpustakaan. Dan yang terakhir, dikarenakan sekolah tersebut jumlah siswanya sedikit, maka akan digabung dengan sekolah lain. (AR)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Jadwal Ujian Nasional 2012 SD SMP SMA

Jadwal Ujian Nasional 2012 SD SMP SMA
Tingkat
Ujian Utama
Ujian Susulan
Pengumuman
SMA/ MA / SMK 16 – 19 April 2012 23 – 26 April 2012 24 Mei 2012
SMP/ MTs./ SMPLB 23 – 26 April 2012 30 April – 4 Mei 2012 2 Juni 2012
SD/ MI / SDLB 7 – 9 Mei 2012 14 – 16 Mei 2012 Daerah
Jadwal selengkapnya dapat diunduh pada lampiran Prosedur Operasi Standar di bawah ini.
Lampiran :
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Kelulusan UN SMA 2012 Mencapai 99,5 Persen

Jakarta --- Sebanyak 1.517.125 peserta ujian nasional (UN) tahun 2012 dinyatakan lulus. Kelulusan tersebut diperoleh setelah menggabungkan nilai UN murni dan nilai sekolah. Jumlah tersebut merupakan 99,5 persen dari 1.524.704 siswa yang telah mengikuti UN. Sedangkan 0,5 persen lainnya, atau sebanyak 7.579 siswa harus mengulang UN tahun depan, atau ikut program kesetaraan paket C.
“Tahun lalu yang tidak lulus 0,78 persen, tahun ini berkurang menjadi 0,50 persen, atau kalau jumlahnya 7.579 siswa,” demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, saat menggelar diskusi dengan media, di Gedung Kemdikbud, Kamis (24/05). Persentase kelulusan tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu meningkat sebanyak 0,28 persen. Tahun lalu, persentase kelulusan baru 99,22 persen.
Dikatakan Mendikbud, dari seluruh sekolah yang ikut UN, 87 persen diantaranya memiliki tingkat kelulusan 100 persen. Meski demikian, Mendikbud mengakui masih ada empat sekolah yang tingkat kelulusannya nol persen. Untuk sekolah-sekolah tersebut akan diberi intervensi khusus. “Itulah salah satu manfaat UN, kita bisa tahu tindakan seperti apa yang harus dilakukan jika ada sekolah yang memang benar-benar perlu dibantu,” katanya. Dari hasil pemetaan nilai UN juga diketahui, tahun ini Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memiliki persentase ketidaklulusan tertinggi, yaitu 5,5 persen atau sebanyak 1.994 siswa, disusul Gorontalo 4,24 persen. “Dan untuk yang persentase kelulusan tertinggi berada di Jawa Timur, mengalahkan Bali yang dua tahun berturut-turut selalu tertinggi,” katanya.
Rata-rata nasional tahun 2012 adalah 7,8. Jika dilihat dari nilai UN murni, lanjut Mendikbud, kelulusan tahun ini adalah 96,7 persen, dan 3,3 persen tidak lulus. Ketidaklulusan tersebut disebabkan rata-rata yang kurang dari 5,5 dan atau ada satu atau lebih mata pelajaran yang nilainya kurang dari empat. (AR)

Sumber:  http://www.kemdiknas.go.id

Pengumuman Hasil Ujian Nasional 2012



Pengumuman Hasil Ujian Nasional UN SMA/SMK/MA 2012

Pengumuman Hasil Kelulusan Ujian Nasional (UN) SMA/MA/SMK
Tingkat
Ujian Utama
Ujian Susulan
Pengumuman
SMA/ MA / SMK16 – 19 April 201223 – 26 April 201224 Mei 2012


Pengumuman Hasil Kelulusan Ujian Nasional (UN) SMP/MTs./SMPLB
Tingkat
Ujian Utama
Ujian Susulan
Pengumuman
SMP/ MTs./ SMPLB23 – 26 April 201230 April – 4 Mei 20122 Juni 2012


Pengumuman Hasil Kelulusan Ujian Nasional (UN) SD/MI/SDLB
Tingkat
Ujian Utama
Ujian Susulan
Pengumuman
SD/ MI / SDLB7 – 9 Mei 201214 – 16 Mei 2012Daerah

Untuk lebih jelas tentang informasi di atas bisa anda lihat dan kunjungi situs resminya di sini.

Mengikuti Monev SM3T UM di Daerah Tertinggal NTT (Habis)

Written By Irfan Dani on Thursday, May 24, 2012 | 9:04 AM

MONITORING dan Evaluasi (Monev) hari terakhir dilakukan tim monev Sarjana Mendidik di daerah 3T “Terdepan, Terluar, Tertinggal” (SM3T) Universitas Negeri Malang (UM) di Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur NTT. Karena kendala medan yang berat, hampir saja kunjungan tersebut dibatalkan dan dialihkan ke daerah lain.


 Namun tim monev tak ingin mengecewakan peserta SM3T dan juga warga sekolah yang sudah menunggu kedatangan mereka. Akhirnya perjalanan yang lebih mirip petualangan di rimba Manggarai pun berhasil dilaksanakan.
Supir travel yang kami pilih untuk menemani kunjungan ke Lamba Leda cukup cekatan dan tangkas menaklukkan medan. Ia menyatakan bersedia menemani tim setelah sebelumnya rekan kerjanya tidak berani membawa kendaraan ke Lamba Leda. Sepanjang perjalanan beberapa kali rombongan monev yang terdiri dari enam orang harus turun dari mobil. Ikut menyingkirkan batu besar yang menghalang di jalan atau menguruk tanah dengan batuan supaya lubangnya tidak terlalu dalam. Rombongan ini terdiri dari Koordinator SM3T UM, Dr Eddy Sutadji M.Pd, Dr Aman Santoso M.Si, Drs H Suharmanto M.Pd, Dra Hj Mimin, dan satu orang koordinator SM3T UM, Sain Widianto serta wartawati  Malang Post, Lailatul Rosida. Kunjungan pertama dilaksanakan di SMP 5 Lamba Leda. Karena gedung SMP masih dalam tahap rehab, sekolah ini ditempatkan di sebuah Kapel yang akses jalannya sangat sulit. Tak jauh beda dengan sekolah-sekolah yang kami kunjungi sebelumnya, untuk mencapai lokasi sekolah ini tim harus melewati jalanan berbatu yang runcing dengan medan jalan yang naik turun. Sekitar 30 menit kami berjalan kaki sampai wajah memerah karena nafas yang memburu dan cuaca yang sedikit terik. Yang membuat salut adalah peserta SM3T yang ditempatkan di sekolah ini setiap hari harus berjalan dengan medan seberat itu.”Berat badan saya turun delapan kilo mbak, awalnya berat juga tapi sekarang sudah terbiasa,” ujar peserta SM3T Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) UM, Nophiani Eko Putri.
Sarjana asal Kalipare Kabupaten Malang ini mengajar di SMP 5 Lamba Leda bersama dua rekannya yang lain yang asli Manggarai. Sebelumnya ada beberapa peserta SM3T dari LPTK lain yang ditempatkan disana tapi tidak kuat meneruskan pengabdian dan memilih pindah di sekolah yang lokasinya lebih dekat. ”Saya bangga dengan guru dari Malang karena bertahan mengajar disini,” ungkap kepala SMP 5 Lambaleda, Nampung Alexander SH.
Kedatangan tim monev di sekolah ini juga disambut dengan upacara adat Manggarai. Seperti biasa, seekor ayam dan minuman tuak khas menandai betapa sekolah di daerah terpencil begitu bangga bisa dikunjungi UM yang saat itu juga menjadi wakil Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Jakarta.
Setelah berdialog dengan pihak sekolah, tim monev melanjutkan kunjungannya ke SMA 1 Lamba Leda. Peserta SM3T yang mengabdi disana mengerahkan motor untuk mengangkut tim monev yang sudah kelelahan setelah kunjungan sebelumnya. Meski naik motor bukan berarti perjalanan menjadi lancar, kami pun dibuat tegang dengan medan jalan yang sebenarnya sangat tidak layak untuk dilalui kendaraan. Jalan berbatu dan lubang dimana-mana membuat kami menahan nafas dan berdoa agar motor tidak selip.
Di SMA 1 Lamba Leda, tim monev UM bertemu dengan satu peserta dari LPTK UM Samsul Arifin, dua peserta dari LPTK Universitas Negeri Gorontalo dan satu peserta dari Universitas Negeri Makasar. Kepala SMA Negeri 1 Lamba Leda, Drs Benedictus Kenor dalam sambutannya berharap program SM3T tidak hanya dilaksanakan satu tahun saja. Keinginan sang kepala sekolah ini memang tidak berlebihan. Sebab kehadiran peserta SM3T seakan memberi warna baru bagi daerah mereka. Ada yang sukses mengajarkan cara mengubah sayur bayam menjadi keripik dan ada pula yang sukses membuat album lagu yang dinyanyikan oleh siswa. Setidaknya kehadiran peserta bisa membuka cakrawala pandang generasi muda di Manggarai. ”Bisa dibilang peserta SM3T ini adalah kepanjangan tangan Dikti, selain mengajar mereka juga diharapkan bisa mengidentifikasi apa yang dibutuhkan sekolah tempat mereka mengabdi,” ungkap Koordinator SM3T UM, Dr Eddy Sutadji M.Pd.
SM3T sudah berjalan enam bulan, dan masih tersisa beberapa bulan lagi bagi peserta SM3T untuk mengabdi di daerah. Semoga saja perjuangan peserta SM3T dan niat baik pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah terpencil bisa membangkitkan semangat generasi muda di daerah untuk terus maju. Seperti semangat program SM3T, Maju Bersama mencerdaskan Indonesia. (lailatul rosida//habis)

Sumber:

 

PMKRI Siap Utak-atik Kasus SM3T yang Diendapkan

Written By Irfan Dani on Monday, May 21, 2012 | 4:20 PM

SETELAH hangat diperdebatkan beberapa waktu lalu, program sarjana mendidik di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (SM3T), akhirnya didiamkan, tanpa ada penyelesaian yang jelas. Karena itu, PMKRI Cabang Kupang akan mengutak-atik kembali kasus ini.
“Kami prihatin mengapa masalah SM3T ini didiamkan. Karena itu, kami akan mengangkat kembali masalah ini untuk dicari jalan keluarnya yang tepat,” kata Ketua Presidium PMKRI Kupang, Bedy Roma kepada VN, Sabtu (19/5).
Ia mengatakan, PMKRI memandang bahwa program SM3T itu merupakan proyek pendidikan. “Ini adalah proyek pendidikan yang bentuknya diwujudkan dengan perdagangan bangku. Perdagangan yang dimaksud dapat dijelaskan seperti sebuah wilayah terjadi overlap tenaga pendidikan kemudian dialihkan ke daerah lain yang diklaim mengalami kekurangan guru,” katanya.
Data yang dihimpun PMKRI, sampai saat ini bagitu banyak tenaga guru di NTT yang menganggur.
Menurutnya, PMKRI sedang mengumpulkan data untuk mengungkit kasus SM3T ini. “Kita sedang advokasi pengumpulan data. Kalau  data sudah lengkap, minggu depan kita akan turun,” tegas Roma.
Secara terpisah, Ketua Forum Mahasiswa FKIP NTT, Sandy Neolaka mengatakan, forum sedang mencari strategi untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah. “Kami menuntut agar pemerintah mengakui bahwa program SM3T adalah program yang salah,” tegas Neolaka. (cal) 

Sumber:  

http://www.victorynewsmedia.com/v2/images/logo%20victory.png

Kehangatan di Manggarai, Keceriaan SM-3T di Ende

Written By Irfan Dani on Sunday, May 20, 2012 | 12:50 AM

Dua hari sudah lawatan Rektor Unnes Prof Sudijono Sastroatmodjo ke  wilayah pengabdian Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Apa yang bisa dicatat?
“Jika enam bulan lalu masih terlihat wajah ragu dan takut sebelum diberangkatkan, kini keraguan itu sudah tidak tersisa lagi. Yang ada hanya kemantapan dan keceriaan di wilayah pengabdian,” ungkap Rektor di hadapan 94 SM-3T asal Unnes yang tengah mengabdi di Kabupaten Ende, saat ramah tamah di sebuah rumah makan.
Di tengah-tengah acara itu, Rektor yang disertai Pembantu Rektor IV Prof Fathur Rokhman dan Sekretaris PPG Dr Isti Hidayah untuk beberapa saat bersama beberapa SM-3T bertemu dengan Bupati Ende Don Bosco M Wangge.
“Jangan seratus, seribu SM-3T pun akan kami terima dengan tangan terbuka karena kehadiran mereka sungguh-sungguh bermanfaat, terutama untuk mangatasi kekuranagn guru di daerah ini,” kata Bupati.
Di Manggarai
Di Kantor Kabupaten Manggarai, sudah terasa kehangatan sejak awal penyambutan. Diterima oleh Bupati dan Wakil Bupati, keakraban serta merta terbangun.
Sejenak duduk di ruang pertemuan yang merupakan rumah adat Manggarai, Rektor dan PR IV sudah disambut dengan penyerahan ayam jantan dan kendi berisi air nira oleh tetua adat setempat. Sebelumnya, dengan duduk bersimpuh di atas tikar, di depan kursi Rektor dan rombongan, tetua adat yang didampingi dua lelaki dalam balutan pakaian adat, menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus doa pengharapan dalam bahasa Manggarai.
“Ayam jantan dengan warna dominan putih dan kendi berisi air enau melambangkan kepolosan hati kami menerima Pak Rektor dan rombongan. Dengan diterima, kami juga ingin katakan kepada leluhur bahwa yang datang ini bukan orang lain, melainkan bagian dari kita sendiri yang membawa kebaikan, sehingga nanti leluhur tak perlu bertanya-tanya dan mengusap-usap Pak Rektor dan rombongan lagi,”  terang Wakil Bupati yang juga tak lupa mengenakan jas serta kopiah bermotif Manggarai kepada Rektor. Pakaian yang sama juga dikenakan kepada anggota rombongan.
Wakil Bupati juga mengemukakan, sambutan tersebut tak lepas dari kebaikan yang telah diberikan Unnes dengan mengirimkan 93 SM-3T. “Kebaikan diterima dengan kebaikan. SM-3T telah membuat rakyat kami tahu ke mana barat dan ke mana pula timur,” katanya.

sumber: http://unnes.ac.id/berita
 

SURAT UNTUK PRESIDEN

Written By Irfan Dani on Wednesday, May 16, 2012 | 10:19 AM

Laporan:  Samiaji Sapto Wibowo, S.Pd Peserta SM-3T Kab. Aceh Timur Alumni Jurusan Pendidikan Geografi 


Jum’at 04 Mei 2012, tepat pukul 14.00 WIB pembelajaran di SMPN 2 Simpang Jernih dimulai tanpa ada suara bel maupun lonceng sebagai pertanda masuk jam pelajaran. Seperti hari-hari sebelumnya, sekarang dan mungkin yang akan datang, jumlah guru yang mengajar di sekolah ini hanya 2 orang yaitu saya dan Pak Jamin Pinem seorang “Batak Karo” ahli madya Jurusan Manajemen Informatika yang mau mengabdi sebagai guru bhakti di sekolah ini.
Hari ini saya mengajar di kelas 2, dari 40 siswa yang terdaftar di Dinas Pendidikan dan hanya 16 siswa yang aktif mengikuti pembelajaran, hari ini hanya ada 8 siswa yang masuk sekolah. Sisanya ada yang membantu orang tua panen di sawah, membantu menebang pohon di hutan bahkan sebagian lagi sedang tidur siang karena semalaman mereka begadang menonton pesta pernikahan warga  sampai jam 04.00 pagi. Keadaan seperti ini sudah cukup lumayan dibandingkan hari-hari sebelumnya yang hanya dihadiri oleh dua, tiga bahkan tidak ada sama sekali siswa yang masuk sekolah.

Siang ini bukanlah pelajaran geografi ataupun IPS yang saya ajarkan melainkan pelajaran Bahasa Indonesia. Inilah sebuah resiko yang harus saya tanggung, dengan tidak adanya guru otomatis saya harus bisa mengajarkan semua mata pelajaran yang ada disekolah padahal latar belakang saya adalah geografi.
Masih agak lumayan latar belakang saya sebagai lulusan dari program kependidikan, bandingkan dengan Pak Jamin Pinem yang lulusan D3 Manajemen Informatika tetapi dia harus bekerja sebagai guru mata pelajaran.
Materi yang saya ajarkan pada pertemuan kali ini adalah materi tentang membuat surat resmi. Seperti biasa pembelajaran dimulai dengan do’a bersama, setelah selesai berdo’a saya pun mulai melakukan kegiatan pembelajaran. Sebelum saya menjelaskan tentang pengertian, struktur ataupun contoh surat resmi, saya memulai pembelajaran dengan bertanya kepada siswa “Apakah kalian tahu apa itu surat resmi?”. Detik demi detik pun berlalu, seperti hari-hari sebelumnya setiap kali saya mengajukan pertanyaan diawal pelajaran suasana kelas sangat hening tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari siswa dan siswi saya ini. Hanya terdengar suara Pak Jamin Pinem dengan logat “Batak”nya yang kental sedang menerangkan dikelas sebelah.
Saya pun mengajukan pertanyaan yang kedua “Apakah diantara kalian ada yang pernah membuat surat?”, suasana pun hampir sama seperti saya mengajukan pertanyaan yang pertama tadi, hanya ada suara pak Jamin dan suara buku yang dibulak-balik oleh siswa seolah-olah sedang mencari jawaban.


Finally, saya mengajukan pertanyaan yang ketiga, “Apakah diantara kalian ada yang pernah membuat surat cinta?”, keadaan pun 1800 berbeda dengan pertanyaan pertama dan kedua, semua siswa saling mengeluarkan suara yaitu suara bersifat tuduhan terhadap teman-teman yang lainnya “Sumaidi pak” kata Darwin, lalu Sumaidi pun tak mau kalah dia pun menjawab “Samila Pak, dia suka ngirimi abang saya surat cinta pak” ejek Sumaidi kepada Samila. Sontak keadaan kelas pun menjadi ramai walaupun hanya dengan 8 orang siswa.
Setelah suasana kembali kondusif, saya pun memulai menjelaskan tentang surat resmi. Singkat cerita selesailah saya menjelaskan materi, kemudian saya menugasi siswa dan siswi saya untuk membuat satu surat resmi yang maksud dan tujunannya bebas sesuai dengan keinginan siswa. Menit demi menit pun berlalu, akhirnya siswa dan siswi pun selesai mengerjakan tugas mereka. Saya pun meminta siswa untuk membacakan hasil tugas mereka di depan kelas.  
Isi surat siswa pun bermacam-macam, ada yang membuat surat untuk kepala desa, membuat surat kepada perusahaan bahkan ada siswa yang membuat surat “lagi-lagi” surat cinta, padahal yang saya tugaskan adalah surat resmi. Tetapi ada salah seorang siswi yang membuat saya heran sekaligus kagum. Amila itulah nama siswi yang membuat saya kagum pada dia. Bukan karena paras maupun sifat dia, melainkan dari surat yang baru saja dia bacakan di depan kelas. Disaat yang lain membuat surat yang ditujukan kepada perusahaan ataupun kepala desa tetapi dia membuat suatu yang lebih sensasional menurut saya, dia membuat surat yang ditujukan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia. Isi suratnya pun cukup singkat dan jelas, yaitu dia meminta bantuan kepada Bapak Presiden untuk dapat membuatkan titi gantung (Jembatan Gantung) di desa mereka (desa Melidi). Berikut ini adalah isi dari surat Amila itu:

Yth. Bapak Presiden RI
Di Jakarta
Dengan Hormat,

Semoga kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan selalu mengiringi Bapak. Dengan ini saya yang bernama Amila SMPN 2 Simpang Jernih Kec. Simpang Jernih untuk meminta bantuan untuk diadakan titi gantung di Melidi kec. Simpang Jernih ini.
Dengan adanya titi gantung kami bisa aktif untuk sekolah, karena sekolah kami ada di sebelah gampong kami desa itu dinamakan Perjut. Kami ke Perjut harus melewati sungai besar. Sekarang ini kalau air sungai kecil kami bisa sekolah di seberang, tapi kalau air besar kami gak bisa sekolah.
Dari karena itu saya mohon kepada Bapak untuk memberikan bantuannya untuk mengadakan titi gantung di gampung Melidi. Semoga hal ini dapat Bapak maklumi. Demikianlah atas perhatian Bapak saya ucapakan terima kasih.

Wassalam
Hormat saya


Amila  

Itulah petikan surat yang dibuat oleh seorang siswi yang sangat prihatin akan keadaan sarana dan prasarana yang ada di desanya. Keinginannya cukup sederhana, dia dan kawan-kawan yang lainnya ingin bersekolah di gedung sekolah SMPN 2 Simpang Jernih yang memang disitulah seharusnya mereka belajar. Bukan seperti sekarang ini, disaat air sungai sedang meluap mereka secara terpaksa harus melakukan kegiatan pembelajaran dengan menumpang di gedung SDN Melidi yang letaknya di sekitar pemukiman warga.
Mungkin ini sedikit konyol, bahkan mungkin diantara kita akan bertanya “Kenapa susah amat sih, sekolah di gedung SD aja kan sama saja?”, tapi tidak demikian dengan siswa disini, mereka sangat ingin dan bahkan akan sangat bersemangat apabila mereka bersekolah di gedung yang seharusnya mereka tempati. Salah satu alasan kenapa belakangan ini banyak siswa yang tidak mau sekolah yaitu karena mereka merasa tidak bersemangat apabila bersekolah di gedung SDN Melidi, mereka ingin bersekolah di gedung SMPN 2 Simpang Jernih walaupun untuk menuju ke sekolah mereka harus menyebrangi sungai dan harus berjalan kaki sejauh 2 Km.

Sumber: http://fpips.upi.edu
New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP
Radio Streaming PPG SM-3T UNP
 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org