November 2012 - PPG SM-3T UNP
News Update:

ASPA Instruksikan Salat Gaib untuk Guru SM3T yang Tenggelam di Simpang Jernih

Written By Irfan Dani on Friday, November 30, 2012 | 5:25 PM


BANDA ACEH – Aliansi Sarjana Pendidikan Aceh (ASPA), Jumat siang 30 November 2012, mengaku telah mengintruksikan kepada pengurusnya di seluruh kabupaten kota untuk melaksanakan salat ghaib untuk dua guru SM3T yang tenggelam di Kabupaten Aceh Timur.
“Kita mengintruksikan kepada seluruh pengurus ASPA, baik provinsi maupun ASPA kabupaten kota untuk melaksanakan salat ghaib. Salat gaib ini untuk korban boat terbalik di Sungai Jernih Aceh Timur, dua korban diantaranya adalah guru SM3T yang sedang mengabdi di perdalaman Aceh,” ujar Sekretaris Umum ASPA Provinsi Aceh, Martahadi S.Pd, M.Pd, kepada ATJEHPOSTcom.
Menurutnya, tragedi yang menimpa dua guru SM3T merupakan duka seluruh sarjana pendidikan di Indonesia, termasuk Aceh. ASPA selaku organisasi yang menaung seluruh sarjana pendidikan di Aceh mengaku turut berduka cita.
“Kami hanya bisa solat ghaib. Hal ini juga kami intruksikan untuk dilakukan oleh seluruh anggota di kabupaten kota. Kalau organisasi guru juga ikut melaksanakan salat ghaib, tentu sebuah prilaku yang sangat terpuji. Namun kita berbeda dengan organisasi guru, dan tidak berhak mengintruksikan mereka,” kata dia.
Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, Kamis, 29 November 2012 sekitar pukul 12.30 WIB, Winda Yulia, guru program Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) akhirnya ditemukan sejak tenggelam pada Senin petang, 26 November 2012 lalu. Selain Winda, Geugeut Zaludiosanusa juga ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.[] (ihn)

Sumber:
Atjeh Post

Alumni UPI Meninggal di Lokasi SM-3T di Aceh



INILAH.COM, Bandung - Dua alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Winda Yulia dan Geugeut Zaludiosanva Annafi, mengalami musibah saat menjalani program SM-3T di Kabupaten Aceh Timur, Senin (26/11/2012).

Salah satu di antaranya, yakni Winda ditemukan meninggal dunia dan disemayamkan di Masjid Kampus UPI untuk disalatkan serta penghormatan terakhir, Jumat (30/11/2012).

Musibah tersebut terjadi Senin (26/11/2012) sekitar pukul 17.00 WIB saat keduanya pulang usai menghadiri rapat koordinasi SM-3T di Kantor Dikpora Kabupaten Aceh Timur. Dalam perjalanan pulang menuju lokasi SM-3T di Desa Melidi, Aceh Timur, Winda dan Geugeut menggunakan perahu boat sederhana bersama dua peserta lain dari UNIMED (Hanafi dan Irma Yuna), penduduk setempat, dan pengemudi boat.

Di tengah perjalanan, arus Sungai Simpang Jernih Aceh Timur membesar dan speedboat yang ditumpangi enam orang itu terguling. Setelah berusaha bertahan, kedua alumni mahasiswa UPI, bersama penduduk setempat dan pengemudi terbawa arus sungai yang deras. Sedangka kedua peserta SM-3T dari UNIMED berhasil bertahan dengan berpegangan pada tangki minyak di pinggiran sungai sampai akhirnya ditemukan warga setempat.

"Kita mengetahui kejadian yang menimpa dua alumni tidak lama setelah kejadian terjadi sekitar pukul 19.00 WIB dan langsung melakukan koordinasi dengan pihak Ditjen Dikti dan teman-teman korban di lokasi. Namun kita belum bisa memberikan keterangan karena saat ini semuanya belum ada kepastian," ujar Rektor UPI Sunaryo Kartadinata saat menggelar konferensi pers di Masjid Kampus UPI, Jalan Setiabudi Kota Bandung, Jumat (30/11/2012).

Sementara itu, pihak Ditjen Dikti selaku penanggung jawab program SM-3T menuturkan, langsung melakukan penyelamatan dan pencarian bersama tim SAR Gabungan Aceh Timur, Aceh Tamiang dan tim Basarnas Provinsi Aceh serta dibantu warga setempat.

Jasad Winda ditemukan pada Kamis (29/11/2012) pukul 12.30 WIB, sekitar 80 km dari lokasi kejadian di Batu Karak, Desa Melidi, KSimpang Jernih. Sedangkan satu peserta asal UPI lainnya, Geugeut Zaludiosanva Annafi sampai saat ini masih dalam proses pencarian.

"Ini murni musibah yang terjadi di luar perkiraan kita. Sebelumnya para peserta sudah disiapkan dengan berbagai pelatihan sehingga siap untuk diterjunkan dalam program ini," tutur Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemendikbud Supriadi Rustad.

Program SM-3T sendiri merupakan program pengabdian sarjana pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T.

Winda sendiri merupakan lulusan terbaik Jurusan Matematika UPI, peraih Honorable Mention on MIPA, Juara 3 OSN PTI tingkat Jabar, dan Juara 3 Olimpiade Sains Teknologi Tahun 2011. Winda tercatat sebagai warga Kelurahan Panumbangan No 11 RT 01/03, Ciamis.

Sedangkan Geugeut Zaludiosanva Annafi merupakan lulusan Jurusan Penjaskes UPI dan tercatat sebagai warga Jalan Adipati Agung 1 Cigado RT 07/10 Baleendah, Kabupaten Bandung.[jul]

Oleh: Ageng Rustandi


www.inilahkoran.com

Catatan Peserta SM-3T: "Untukmu, Winda"

Prayogo Setiawan
http://happynspiration.blogspot.com/2012/11/untukmu-winda.html


Bismillahirrahmanirrahim…
Untukmu, Winda…

Selamat jalan sahabatku…
Selamat tinggal pahlawanku…
Engkaulah sebenar-benar pahlawan…
Meski engkau hanya bergelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”…

Hari ini…
Kami berkabung…
Simpang Jernih, Aceh Timur, Aceh, hingga Indonesia juga berkabung…
Kami semua takkan lupa jasa dan pengabdianmu…
Kami takkan lupa…

Kami semua bangga…
Kami ikhlaskan kepergianmu…
Do’a kami mengalir untukmu selalu…
Semoga engkau kini bahagia di sisi-Nya…
Bergabung dengan para syuhada di syurga…

Kami janji…
Lanjutkan perjuanganmu…
Kami janji…
Bangun negeri ini…
Kami janji… Kami janji…

Allahumma firlaha…
Warhamha…
Wa’afihi wa’fu ‘anha

Allahumma laa tahrima ajroha…
Walaa ta’tina ba’daha..
Waghfirlana walaha…

Ya Allah…
Winda syahid saat mengabdi…
Maka…
Jadikan ini jalan terbaik untuk Winda…
Jalan yang Engkau Rihoi…

Ya Allah…
Terimalah segala amal dan pengabdiannya…
Ampunilah dosa-dosanya…
Tabahkanlah orang tua dan keluarganya…

Ya Allah…
Jadikanlah ia syahid di jalan-Mu
Kumpulkanlah ia dengan para syuhada…
Buahkanlah syurga-Mu baginya…

Ya Allah…
Berilah kami kekuatan…
Untuk terus mengabdi pada negeri ini…
Hingga kelak Engkau memanggil kami…

Ya Allah…
Kami ingin seperti winda…
Jika kelak Engkau hendak memanggil kami…
Panggilah kami saat mengabdi di jalan-Mu…

Allahumma inni asaluka salamatan fiddin…
Wa’afiya fil jasad…
Waziyyadatan fil ‘ilmi…
Wabarakatan fii rizqi…
Wataubatan qoblal maut…
Warahmatan ‘indal maut…
Wamaghfiratan ba’dhal maut…

Allahumma hawwin ‘alaina fii sakaratul muat…
Wannajatim minnan nar…
Wal’afa ’indal hisaab…

Robbana atinaa fiddunya khasanah
Wafil akhirati khasanah…
Waqiina ‘adzabannnar…
Amiin…
Amiin yaa rabbal’alamin…


Dari kami…
Untukmu, Winda…

                                                                                   
Memoar untuk alm. Winda Yulia
Guru SM-3T UPI, Bandung
SMPN 2 Simpang Jernih, Aceh Timur, indonesia
29 November 2012

Wagub Aceh Muzakir Manaf Sampaikan Belasungkawa Atas Musibah Sarjana Mendidik


BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan ungkapan duka cita untuk musibah yang dialami Sarjana Mendidik yang terjadi di Aceh. “Saya atas nama Pemerintah Aceh dan juga rakyat Aceh turut berbelasungkawa,” kata Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem kepada ATJEHPOSTcom, Jumat 30 November 2012.
Kepada keluarga besar Sarjana Mendidik, Mualem menyampaikan agar tabah menghadapi musibah tersebut. “Salam saya untuk keluarga korban, semoga mereka juga ikhlas atas kepergian orang yang dicintainya itu,” kata Mualem. “Aktifitas para Sarjana Mendidik ini sangat baik untuk masyarakat, kami di Aceh sangat membutuhkan kehadiran mereka untuk mendidik anak-anak kami, kami sangat berduka,” katanya.
Musibah yang menimpa Sarjana Mendidik terjadi di Aceh di Sungai Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Senin, 26 November 2012. Empat guru yang ditempatkan di SMPN2 Simpangh Jernih yaitu Geugeut Zaludiosasuna Annafi, Winda Yulia, Irma Yuna, dan Hanafi, hanyut. Peruha yang mereka tumpangi terbalik. Dua orang selamat. Adapun Winda ditemukan sudah meninggal, sedangkan Geugeut belum ditemukan.
Mualem meminta seluruh tim yang terlibat dalam pencarian salah satu guru yang belum ditemukan untuk  berupaya maksimal menemukannya.
Di daerah ini, keempat guru ini mengikuti Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Teritinggal (SM3T) yang dicanangkan oleh pemerintah memberikan dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Namun, tidak semua guru tertarik untuk mengikuti program ini, wajar mengingat daerah penempatannya sangat minim fasilitas.
Di Provinsi Aceh, salah satu daerah yang menjadi tempat guru-guru tersebut mengabdi adalah Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Di kecamatan ini terdapat delapan desa, salah satunya adalah Melidi.
Di Melidi inilah ditempatkan empat guru sarjana mendidik, mereka mengajar di SMPN2 Simpang Jernih. Empat guru tersebut adalah Geugeut Zaludiosanusa Annafi, Winda Yulia dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dua orang lagi bernama Irma Yuna dan Hanafi dari Universitas Negeri Medan (Medan, Sumatera Utara).
Dari berbagai informasi yang dihimpun oleh ATJEHPOSTcom, Winda Yulia berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Ia lahir pada 27 Juli 1990 silam. Winda merupakan alumni UPI angkatan tahun 2008 Jurusan Pendidikan Matematika.
Di kampus Winda tercatat sebagai mahasiswa yang berprestasi, ia pernah meraih Honorable Mention ON MIPA-PT bidang Matematika. Ia juga pernah mendapatkan Juara 3 OSN PTI Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahun 2011. Guru muda tersebut juga pernah mendapat Juara 3 Olimpiade Sains Teknologi Nasional 2011, dan beberapa prestasi lainnya.
Dengan prestasi tersebut, Winda ingin ilmunya berguna bagi bangsa Indonesia, salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan mengikuti program SM3T. []

Sumber:
Atjeh Post

Pengumuman Kelulusan Peserta SM-3T UNNES 2011 Ditunda



Sehubungan proses koordinasi dengan Diktendik Dikti belum selesai, maka pengumuman kelulusan SM-3T angkatan I tahun 2011 akan diunggah pada Selasa, 4 Desember 2012.
Semarang, 29 November 2012
Sekretaris Program PPG,
ttd
Dr. Isti Hidayah, M.Pd
NIP 196503151989012002

Dua Korban Boat Tenggelam Ditemukan Meninggal


KUALA SIMPANG - Pencarian korban tenggelam akibat terbaliknya boat sampan di Batu Katak, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, Senin (26/11), membuahkan hasil pada Rabu dan Kamis (29/11) kemarin. Dari tiga orang yang masih hilang, dua ditemukan dalam keadaan tak lagi bernyawa.

Keduanya perempuan, yakni Martini (44), warga Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur dan Winda Yulia, guru asal Jawa Barat. Mayat Martini ditemukan, Rabu (28/11) pukul 23.00 WIB di Sungai Tamiang kawasan Desa Bengkelang, sedangkan mayat Winda ditemukan Kamis (29/11) pukul 13.15 WIB di sungai Desa Ara Sembilan Lama yang bersebelahan dengan Desa Alue Jambu, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang.

Dengan demikian, tinggal Geugeut Zaludio Sanua Anafi yang juga guru asal Jawa Barat yang belum ditemukan. Sebelumnya, Rabu (28/11) pukul 08.30 WIB, warga menemukan di Sungai Tamiang mayat Ahmad (30), tekong atau jurumudi boat sampan yang tenggelam itu.         

Koordintor Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) Aceh, Khairul Nova kepada Serambi kemarin mengatakan, mayat Martini ditemukan Niko (25), warga Desa Batu Sumbang. Niko sendiri tergabung dalam tim pencari bentukan warga yang menyusuri sungai juga menggunakan boat sampan. 

Bersama lima rekannya saat melintasi Desa Bengkelang, Niko melihat satu benda mirip organ tubuh manusia yang berada di pinggir Sungai Tamiang. Setelah didekati, ternyata benda tadi kaki manusia. Waktu ditarik, ternyata itu jasad Martini dalam posisi telungkup dan sebagian tubuhnya tertanam di pasir.

Tim penemu bersama Satgas SAR Aceh Timur dan Aceh Tamiang, RAPI, Basarnas, dan BPBD Aceh Tamiang langsung memboyong jasad korban ke desa terdekat, Batu Sumbang. Begitu ditemukan di Bengkelang, mayat Martini langsung dikafani warga di tempat. Sejak awal warga memang telah mempersiapkan kafan. “Setelah itu, barulah jenazah dibawa pulang ke desanya di Melidi,” ujar Muzib yang menyaksikan prosesi pengafanan itu. 

Versi lain menyebutkan, dari Batu Sumbang jenazah dievakuasi ke RSUD Tamiang untuk divisum, kemudian dibawa ke kampungnya, Melidi, untuk dikebumikan.

Sedangkan jasad Winda Yulia (22), guru asal Jawa Barat, ditemukan oleh warga, lalu dikabarkan kepada tim SAR gabungan yang pada Kamis siang itu memang sedang menyisir pinggir Sungai Tamiang.  “Mayat Winda kemudian dievakuasi ke RSUD Tamiang untuk divisum,” ujar Ketua Satgas SAR Aceh Tamiang, Syaiful Syahputra. 

Menurutnya, sampai kemarin sore jenazah Winda masih di kamar mayat RSUD Tamiang. Belum diketahui apakah akan dibawa pulang keluarganya ke Jawa Barat atau dikebumikan di Aceh Tamiang. “Masih belum kita peroleh keterangan dari pihak keluarganya,” ujar Syaiful.      Masih dicari 

Hingga hari keempat tenggelamnya boat sampan tanpa nama itu, pihak Basarnas tetap melanjutkan pencarian sampai semua korban ditemukan. Dalam misi pencarian ini ikut bergabung Airud Aceh Timur. 

Penyisiran dilakukan di Sungai Tamiang naik boat sampan, sedangkan di pinggir sungai dengan cara berjalan kaki.  Operasi hari keempat ini berjalan lebih lancar dibanding hari pertama hingga ketiga, karena kemarin arus Sungai Tamiang tidak lagi terlalu deras. Namun, tetap belum bisa dilakukan penyelaman, karena air sungai masih sangat keruh.  

Sebagaimana diketahui, kedua guru yang nahas itu merupakan pendidik yang tergabung dalam program sarjana mendidik di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (SM3T). Teman-teman Winda Yulia sesama SM3T mengaku siap untuk patungan membiayai pemulangan jenazah Winda ke Jawa Barat. Namun, harus seizin keluarga Winda. Para guru SM3T itu baru ditugaskan 16 Oktober lalu di 

Simpang Jernih, desa pedalaman Aceh Timur. “Dari Simpang Jernih baru pertama kali mereka turun ke Langsa untuk mengikuti pertemuan di Dikjar,” ujar Taufik, guru SM3T dari Unimed, Sumatera Utara, yang mengajar di SMPN 1 Darul Ikhsan, Aceh Timur. 

Ia tambahkan, sehari sebelum musibah itu terjadi, Taufik bersama sejumlah rekan, termasuk Geugeut Zaludio Sanua Anafi, bermain futsal pada Minggu pagi. “Saat itu Geugeut terlihat ceria.”  (md)

Editor : bakri

Sumber:

Serambi Indonesia

Musibah Simpang Jernih, Program SM3T Tetap Dilanjutkan


BANDA ACEH - Kepala Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Ibnu Hamad, menyatakan program Sarjana Mengajara daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) tetap akan dilanjutkan di Aceh Timur. Musibah yang menimpa guru mendidik di Simpang Jernih Aceh Timur tidak menjadikan alasan untuk menghentikan program tersebut.
Hal itu dikatakan Ibnu Hamad ketika dihubungi ATJEHPOST.com melalui telepon selularnya, Kamis 29 November 2012.
Menurut Ibnu, program SM3T dilakukan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan baik di Aceh Timur yaitu SMPN 2 Simpang Jernih Aceh Timur maupun di seluruh Indonesia. Program itu akan terus dilakukan untuk mengurangi ketiadaan guru pendidik di seluruh Indonesia.
"Agar terjadi pemerataan fasilitas dan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk daerah-daerah yang terpencil," kata Ibnu.
Ibnu menyatakan, apa yang terjadi di Simpang Jernih adalah musibah besar yang dialami Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. "Mereka yang terkena musibah adalah pahlawan yang gugur dalam menjalankan tugas suci untuk pendidikan di Indonesia," ujar Ibnu.
Musibah Simpang Jernih terjadi ketika sebuah boat yang mengangkut para guru pedalaman yang mengajar di SMPN 2 Simpang Jernih terbaik. Akibat musibah tersebut 3 orang penumpang termasuk salah seorang guru SM3T, Winda Yulia, ditemukan meninggal. Sedangkan satu orang guru lainnya, Geugeut Zaludiosanusa Anafi, sampai saat ini belum ditemukan. []

Sumber:
Atjeh Post

Winda Yulia, Guru Sarjana Mendidik yang Tenggelam Ditemukan

Written By Irfan Dani on Thursday, November 29, 2012 | 2:06 PM

 

IDI RAYEUK – Winda Yulia, 22 tahun, guru program SM3T asal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang mengajar di SMPN 2 Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih Kabupaten Aceh Timur telah ditemukan.
Informasi yang diperoleh ATJEHPOST dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Elfiandi, jasad korban ditemukan hari ini, Kamis, 29 November 2012 sekitar pukul 12.30 wib tadi. Winda ditemukan sekitar 80 kilometer dari lokasi tenggelam di Batu Katak, Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih.
Korban ditemukan oleh Tim SAR Gabungan yang tergabung dalam Time SAR Aceh Timur, Tim SAR Aceh Tamiang dan Tim Basarnas Provinsi Aceh. Saat ini semua tim sedang melakukan pencarian satu korban lagi. Saat ini korban sedang dievakuasi menuju RSUD
 
Sumber:
 

Cerita Guru Sarjana Mendidik Aceh di Daerah Terdepan Pulau Kalimantan


Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) merupakan program yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan melalui Dirjen Perguruan Tinggi atau DIKTI. Program ini dimaksudkan sebagai program pengabdian Sarjana Pendidikan dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal. Masa baktinya selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik professional yang akan berlanjut dengan Program Pendidikan Profesi Guru.
Tak hanya perguruan tinggi dari luar Aceh saja yang mengirimkan gurunya untuk ditempatkan di Aceh, tetapi ada ratusan guru dari Aceh yang juga ditempatkan ke luar Aceh yaitu ke Kalimantan, Kepulauan Riau dan Nusa Tenggara Timur. Sedikitnya ada sekitar 300 lebih guru dari Unsyiah yang ditugaskan ke tiga provinsi itu selama satu tahun ke depan.
Ditempatkan di daerah-daerah terluar, terdepan dan tertinggal memang memiliki tantangan tersendiri bagi para guru program sarjana mendidik tersebut. Seperti tantangan yang dihadapi oleh guru-guru Aceh yang ditempatkan di Provinsi Kalimantan Barat. Salah satunya adalah Akmal Muhammad Rum, guru Bahasa Indonesia dari FKIP Unsyiah yang ditempatkan di SMP N 4 Dusun Serangkang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanngau, Provinsi Kalimantan Barat.
Kepada ATJEHPOSTcom melalui telepon selularnya siang ini, Kamis, 29 November 2012, mengatakan jika daerah tersebut masuk dalam kategori “terdepan” karena berbatasan langsung dengan Serawak, wilayah negara Malaysia. “Kalau proses adaptasi dengan masyarakatnya tidak terlalu berat, masyarakat di sini sangat menghargai para guru, mereka baik-baik,” ujar Akmal.
Namun, kendala yang sangat terasa adalah masalah jalur transportasi yang sangat buruk. Secara umum jalan-jalan di sana kata Akmal kondisinya sangat memprihatinkan. Bukan hanya jalan lintas kecamatan, bahkan jalan lintas kabupaten pun sama.
“Yang sedikit agak bagus itu jalan antar negara, antara Indonesia-Malaysia,” kata Akmal lagi. Selain jalur darat, jalur transportasi lainnya yang ditempuh adalah sarana transportasi air. Kalimantan memang terkenal sebagai pulau yang banyak memiliki sungai-sungai.
Akmal pun terpaksa naik sampan untuk menyeberangi sungai jika hendak berbelanja atau ada keperluan lain. Sungai yang mereka seberangi adalah sungai Sekayan, sungai tersebut membelah Kecamatan Entikong dan Kecamatan Sekayan. Namun jika arus sedang deras mereka tidak berani menyeberang, untuk mengansipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Di Kalimantan Barat kata Akmal, ada 102 guru sarjana mendidik yang ditempatkan di Kabupaten Sanggau. Guru-guru tersebut tersebar di 11 kecamatan di Sanggau, di antaranya di Tayan Timur, Tayan Hulu, Meliau, Jangkang, Entikong dan Merau.
“Untuk sampai ke Kecamatan Tayan Hilir dan Hulu harus naik boat, begitu juga kalau ke Meliau, harus menyeberangi sungai Kapuas dengan naik boat. Sedangkan kalau ke Merau sudah ada jalur darat Cuma kondisinya sangat jelek,” kata Akmal.
Di tempat Akmal mengajar, di SMPN 4 tersebut muridnya hanya 31 orang, terdiri dari kelas satu 12 orang, kelas dua 10 orang dan sisanya kelas tiga 9 orang. Di sekolah tersebut ada tujuh guru, 4 berstatus pegawai negeri, 3 honor, ditambah guru sarjana mendidik 2 orang. “jadi totalnya sembilan,” ujarnya.
Di sekolah itu Akmal mengajar Bahasa Indonesia, ia juga menjadi pembina Osis dan memegang pelajaran pengembangan diri pada hari Sabtu. Meski sama-sama berada di satu kabupaten katanya, akses informasi dengan teman-teman lain tak bisa dikatakan lancar, jaringan telepon selular ke sana sering terganggu. Saat dihubungi THE ATJEHPOSTcom komunikasi dengan Akmal tak begitu lancar, kadang-kadang suaranya hilang dan sama sekali tak terdengar.
Agar komunikasi selalu lancar guru-guru sarjana mendidik Aceh di Sanggau membentuk ketua kecamatan. “Dari sini kami bisa mengetahui kondisi teman-teman, jadi bisa saling tukar informasi,” katanya. Selain masalah signal telepon selular, listrik di tempat ia bertugas juga masih terbatas. Masyarakatnya masih memanfaatkan tenaga genset untuk sumber arus listrik.
Setelah mengetahui kabar ada guru sarjana mendidik dari Bandung yang mendapat musibah tenggelam di Aceh Timur, apakah Akmal dan teman-temannya takut?
“Takut sih enggak, tapi ya khawatir juga, intinya sih kita di sini saling menjaga, saya juga selalu kontak dengan teman-teman di Aceh, dengan teman-teman di sini yaitu tadi memanfaatkan ketua kecamatan yang kami bentuk,” kata Akmal yang mengetahui kabar tersebut melalu status BB seorang temannya.
Akmal dan teman-teman juga mendapatkan perlindungan ansuransi dari pihak kampus. Namun katanya, rumah sakit yang menjadi rujukan pihak ansuransi sangat jauh. Terletak di ibu kota propinsi di Pontianak.
“Jadi kalau sakit ya nggak mungkin kita berobat ke sana, kalau dari Entikong saja sekitar enam jam, tapi kalau teman-teman dari kecamatan lain bisa lebih,” katanya. Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi, Akmal tetap semangat menjalankan tugasnya di sana, karena sejak awal ia memang sudah berniat untuk mengabdi.[] (ihn)


Sumber:

Satu Lagi Korban Tenggelam di Simpang Jernih Ditemukan


 

IDI RAYEUK – Korban tenggelam atas nama Martani (kernet boat) warga Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur telah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Rabu malam, 28 November 2012, sekitar pukul 23:30 wib.
Korban pertama kali ditemukan oleh masyarakat saat melakukan pencarian. Informasi tersebut disampaikan oleh Kapala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Aceh Timur, Elfiandi. Korban, katanya ditemukan dari titik tenggelam boat di Batu Katak, sekitar 20 kilometer dari lokasi.
Sementara dua korban lainnya, Geugeut dan Winda, guru Sarjana Mendidik yang bertugas di SMPN2 Simpang Jernih, hingga kini belum ditemukan dan masih dalam tahap pencarian.
Kemarin seorang korban lainnya, Ahmad (juru kemudi boat) juga sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa lagi.[] (ihn)

Sumber:

Dua Guru Korban Perahu Terbalik Belum Ditemukan

 Dua Guru Korban Perahu Terbalik Belum Ditemukan


BANDA ACEH, KOMPAS.com - Dua korban kecelakaan perahu boat yang ditumpangi rombongan guru program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) di Sungai Simpang Jernih, kawasan Batu Katak, Desa Batu Sumbang, Aceh Timur, Senin (26/11/2012), hingga kini belum ditemukan.

Dua korban yang masih hilang tersebut adalah Winda Yulia (22), warga Panumbangan no 11, Kecamatan Panumbangan, Ciamis; dan Geugeut Zaludio Sanua Anafi (23), warga Jalan Adipati Agung 1, Cigado, Baleendah, Bandung. Keduanya adalah guru program sarjana mendidik yang berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Kepala Seksi Operasi Badan SAR Nasional Banda Aceh, M Harris, Kamis (29/11/2012), mengungkapkan, Basarnas Banda Aceh bersama Tim Satgas SAR Aceh Tamiang, Satgas SAR Langsa, Satgas SAR Aceh T imur, dan Koramil Kuala Simpang terus saat ini masih terus melakukan pencarian.

Tim kami bagi dua, yang pertama menyusuri dari Kuala Simpang ke lokasi kejadian, tim kedua dari Kuala Simpang-Seruai. Penyusuran kea rah lokasi tetap kami lakukan, siapa tahu menyangkut di suatu tempat, kata dia.

Dari enam korban kecelakaan perahu boat, dua orang selamat, yakni Irma Yuna, warga Medan, Sumatera Utara, dan Hanafi, warga Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh. Keduanya guru program sarjana mendidik dari Universitas Negeri Medan (Unimed).

Winda, Geugeut, Irma, dan Hanafi, bertugas sebagai guru di SMP Negeri 2 Simpang Jernih, Desa Melidi, Aceh Timur. Pada Senin lalu, keempat guru itu hendak kembal i ke Melidi setelah mengikuti rapat di Kota Langsa. Keempatnya naik perahu boat dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang untuk menuju Melidi menyusuri Sungai Simpang Jernih . Selain empat guru itu, di perahu tersebut juga ada dua orang lainnya, yaitu Ahmad (juru mudi atau tekong), dan Mantani (warga Melidi).

Sekitar 5 jam perjalanan, persisinya di antara kawasan Desa Batu Sumbang dan Melidi, perahu boat terbalik karena tak mampu melawan arus sungai. Irma dan Hanafi selamat dan berhasil menyelamatkan diri ke tepi sungai dengan menggapai jeriken berisi bensin.
Ahmad dan Mantani ditemukan meninggal dunia setelah terbawa arus.

"Ahmad ditemukan sekitar 25 kilometer dari lokasi kejadian pada Rabu (28/11/2012) pagi sekitar pukul 08.20, sedangkan Mantani ditemukan 50 kilometer dari lokasi kejadian Rabu malam sekitar pukul 23.00," kata Harris.

Winda dan Geugeut sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya. Hingga Kamis siang, pencarian masih terus dilakukan. 
Editor :
Robert Adhi Ksp
 
Sumber:
 
KOMPAS.com

Boat Para Guru Program Sarjana Mendidik Terbalik di Tamiang

 Tragis. Begitulah gambaran musibah yang menimpa serombongan guru Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) asal Aceh, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Boat yang mereka tumpangi terbalik saat melawan arus Sungai Tamiang ketika dalam perjalanan kembali ke tempat tugas di Desa Melidi, Aceh Timur, Senin (26/11) sore.

Boat nahas tersebut ditumpangi empat guru, yaitu Hanafi (asal Blangkejeren, Gayo Lues), Irma Yuna (Medan, Sumut), Geugeut Zaludio Sanua Anafi dan Winda Yulia (keduanya asal Jawa Barat).

Keempat guru tersebut didampingi dua warga lokal yaitu Ahmad (juru mudi/tekong) dan seorang lainnya bernama Martini. Lokasi kejadian di aliran Sungai Simpang Jernih, kawasan Batu Katak, antara Desa Batu Sumbang dan Melidi, Aceh Timur.

Camat Simpang Jernih, Drs Ahmad kepada Serambi, Selasa (27/11) mengatakan, keempat guru tersebut bertugas di SMP Desa Melidi, sebuah kawasan pedalaman di hulu Sungai Tamiang.

Sebelum hari nahas itu, keempat guru menuju Kuala Simpang (ibu kota Aceh Tamiang) untuk suatu keperluan. Mereka menggunakan alat transportasi sungai dengan waktu tempuh sekitar 4-6 jam.

Setelah menyelesaikan berbagai urusan di Kuala Simpang, akhirnya pada Senin (26/11) siang keempat guru pulang kembali ke Melidi. Pada awalnya ada seorang warga lainnya dalam boat, namun warga tersebut turun ketika sampai di Desa Simpang Jernih.

Masih di aliran Sungai Simpang Jernih, tepatnya setelah sekitar lima jam perjalanan dari Kuala Simpang, boat semakin terengah-engah melawan arus sungai. Dalam keadaan kepayahan, boat mencapai kawasan Batu Katak, antara Batu Sumbang dan Melidi. Boat tak mampu melawan derasnya arus hingga mundur dan menabrak batu sehingga terbalik dan tenggelam.

Semua penumpang boat, termasuk pengemudi tumpah ke sungai. Namun dua guru berhasil menyelamatkan diri, yakni Hanafi dan Irma Yuna. Mereka berpegangan pada jeriken berisi bensin hingga akhirnya ditolong warga yang sedang memasang jaring ikan. Sedangkan dua guru lainnya, Geugeut Zaludio Sanua Anafi dan Winda Yulia dilaporkan masih hilang bersama juru mudi boat dan seorang warga lainnya.

Beberapa saat setelah menerima informasi musibah tersebut, tim pencari terus bergerak ke lokasi kejadian. Namun hingga Selasa kemarin, menurut informasi dari relawan komunikasi RAPI Aceh Tamiang, korban hilang belum ditemukan.(md)

Maut di Batu Katak
MESIN boat yang ditumpangi rombongan guru terpencil itu meraung keras saat melawan derasnya arus Sungai Simpang Jernih, kawasan Batu Katak, Aceh Timur, Senin sore 26 November 2012. Boat yang dikemudikan seorang warga lokal bernama Ahmad “menyerah” dan mundur diterjang ganasnya arus; terbanting ke batu, hancur, menumpahkan semua penumpangnya ke aliran sungai di antara bukit cadas.

Musibah yang menghentak dunia pendidikan tersebut menimpa empat guru Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) asal Aceh, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Mereka bertugas di pedalaman Aceh Timur, tepatnya di Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih.

Saat musibah terjadi, mereka sedang dalam perjalanan kembali ke wilayah tugas setelah menyelesaikan urusan di Kuala Simpang, ibu kota Aceh Tamiang. Dalam perjalanan ke hulu Sungai Tamiang petang itu, keempat guru didampingi dua warga lokal, termasuk juru mudi boat/tekong bernama Ahmad.

Ketika boat memasuki kawasan Batu Katak, drama mengerikan itu pun terjadi. Boat tak mampu melawan arus, akhirnya mundur dan terhempas ke batu. Dari empat guru, dua masih hilang bersama juru mudi dan seorang warga lainnya. Seorang warga Simpang Jernih bernama Ajisah mengatakan, Batu Katak dikenal sebagai kawasan angker karena sering terjadi kecelakaan boat. Selain alur sungai sempit, diapit dua gunung batu, arusnya juga menanjak. “Jika arus sedang deras biasanya warga tidak berani naik ke Melidi,” kata Ajisah.

Camat Simpang Jernih, Drs Ahmad menginformasikan, untuk proses pencarian empat korban yang masih hilang (termasuk dua orang guru), dikerahkan 40 boat yang melibatkan masyarakat bersama tim Satgas SAR.

Relawan Komunikasi RAPI Aceh Tamiang yang dihubungi Serambi tadi malam menginformasikan, proses pencarian masih terus berlanjut, namun hingga tadi malam--saat misi dihentikan sementara--keempat korban hilang belum ditemukan. “Pencarian korban melibatkan tim gabungan, terutama Satgas SAR Aceh Timur. Sedangkan Satgas SAR Aceh Tamiang dan Langsa ikut memback-up. Tim Basarnas dari Banda Aceh yang dipimpin Bang Nova juga sudah berada di lokasi,” kata Ketua Satgas SAR Aceh Tamiang, Syaiful Syahputra yang juga relawan RAPI dengan call sign JZ01WLO.(md/nas)

40 Boat Cari Korban
MISI pencarian korban boat tenggelam di aliran Sungai Simpang Jernih, kawasan Batu Katak, Aceh Timur masih terus berlanjut. Namun hingga tadi malam--saat pencarian dihentikan sementara--empat korban hilang belum ditemukan.

Camat Simpang Jernih, Drs Ahmad menginformasikan, untuk proses pencarian empat korban yang masih hilang (termasuk dua orang guru), dikerahkan 40 boat yang melibatkan masyarakat bersama tim Satgas SAR. Posko pencarian sudah didirikan di Desa Batu Sumbang.

Relawan Komunikasi RAPI Aceh Tamiang yang dihubungi Serambi tadi malam menginformasikan, pencarian korban melibatkan tim gabungan, terutama Satgas SAR Aceh Timur. Sedangkan Satgas SAR Aceh Tamiang dan Langsa ikut memback-up. “Tim Basarnas dari Banda Aceh yang dipimpin Bang Nova juga sudah berada di lokasi,” kata Ketua Satgas SAR Aceh Tamiang, Syaiful Syahputra yang juga relawan RAPI dengan call sign JZ01WLO. (md/nas) | Serambi Indonesia.

Sumber:


http://www.suara-tamiang.com







Ini Kata Kepala SMPN 2 Simpang Jernih, Tempat Guru Sarjana Mendidik Bertugas

 

BANDA ACEH – Empat orang guru muda yang mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) di Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur rupanya baru mengajar di sana pada bulan Oktober 2012 lalu. Keberadaan mereka di daerah pedalaman Aceh Timur tersebut belum genap dua bulan.
Kepala Sekolah SMPN 2 Simpang Jernih, Ibrahim Win Ariga, yang dihubungi ATJEHPOSTcom melalui telepon selular pada Rabu petang, 28 November 2012 mengatakan jika empat guru tersebut berasal dari dua universitas di Indonesia yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Negeri Medan (Unimed).
Dari Bandung dua guru tersebut adalah Geugeut Zaludiosanusa Annafi dan Winda Yulia sedangkan dari Medan adalah Hanafi dan Irma Yuna. “Di Melidi mereka tinggal di rumah warga,” kata Ibrahim.
SMPN 2 tersebut kata Ibrahim, memiliki jumlah murid sebanyak 86 orang dari kelas 1-3. Guru yang mengajar di sana hanya empat orang dan mereka semuanya berstatus guru bakti. Dengan hadirnya empat guru sarjana mengajar, jumlah guru di sana menjadi delapan orang. Rencananya mereka akan bertugas di sekolah itu selama satu tahun.
“Yang berstatus pegawai negeri hanya kepala sekolahnya, sedangkan pegawai TU-nya dua orang juga berstatus bakti,” katanya.
Ibrahim sendiri belum genap satu tahun menjabat sebagai kepala sekolah di sana. Sebelumnya ia bertugas di Kecamatan Serbajadi, Lokop. “Saya tugas di  Simpang Jernih sejak Januari 2012,” katanya.
Meski bertugas di Simpang Jernih, Ibrahim berdomisili di Kota Langsa. Ia datang ke sekolah seminggu sekali. Saat kejadian boat tenggelam yang membawa guru sarjana mendidik pada sore Senin, 26 November 2012 dirinya sedang berada di Langsa.
“Awalnya rencana mau berangkat bersama, tetapi karena ada persiapan untuk peringatan PGRI tidak jadi,” ujarnya.
Empat guru tersebut sebelumnya baru pulang dari Kota Langsa untuk mengikuti rapat rutin antar SM3T. Rapat yang diikuti tersebut merupakan rapat pertama setelah mereka ditugaskan ke Simpang Jernih. Mereka berangkat ke Langsa pada Sabtu, 24 November 2012 dan kembali ke Simpang Jernih pada hari Senin.
Kejadian tersebut menenggelamkan empat orang penumpang, satu di antaranya telah ditemukan pagi tadi dalam kondisi tak bernyawa lagi. Sementara dua guru dan seorang warga lainnya masih berstatus hilang hingga saat ini.
Sementara dua korban selamat lainnya, Yuna dan Hanafi saat ini dirawat di RSUD Cut Nyak Dhien, bukan di RSUD Aceh Tamiang sebagaimana diberitakan sebelumnya. “Kondisi mereka sekarang alhamdulillah sudah membaik, saya baru saja menelepon mereka,” katanya.[] (ihn)

Sumber:

 
 

Beragam Komentar Dukungan Soal Musibah Guru Sarjana Mendidik di Simpang Jernih

 

BANDA ACEH - Musibah yang menimpa Geugeut dan Winda, dua guru Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil atau SM3T di Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur mengalirkan simpati dari banyak kalangan.
Kabar musibah yang diberitakan oleh ATJEHPOSTcom itu menimbulkan beragam komentar berisi dukungan dan doa agar kedua guru muda itu segera ditemukan dalam kondisi selamat. Dukungan mayoritas berasal dari pengguna jejaring sosial yang berasal dari Jawa Barat, daerah asal Geugeut dan Winda.
Dukungan misalnya disampaikan pengguna facebook dengan nama akun Lita Padilah Septiani. Pryafor Geugeut#alumni SMAN1BE, tulis Lita. Dalam keterangannya, Lita berasal dari Universitas Padjadjaran, Bandung.
Komentar lain dari akun Sri Wulandari. Keterangan yang tertera di sana pemilik akun ini bekerja di SMAN I Baleendah, Bandung, Jawa Barat. "YA Allah... berikanlah mereka kekuatan kesabaran dan keselamatan,,,, Amin. Geugeut... sabar ya nak, doa ibu utkmu slalu... ditunggu di bandung ya geut.
Akun Alfiani Amelia dari Universitas Pendidikan Indonesia menuliskan, Pray for The Winda, semoga segera ditemukan..aamiin.. Komentar ini di-reply oleh akun Iwan Kurniawan dari Cibubur, Jawa Barat, mudah2n segera ditemukan…Aamiin.
Komentar lainnya berasal dari adik kelas Geugeut Widiyani Puspita; ya allah semoga cepat ditemukan dua guru program sarjana mendidik, selamatkan mereka, Kang Geugeut kakak kelasku di SMP 1 Baleendah, Jawa Barat.[] (ihn)

Sumber:

Sungai Tempat Guru Sarjana Mendidik Tenggelam Berhulu ke Gayo Lues

Desa Melidi yang berada di Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, berada agak jauh dari ibu kota kecamatan di Simpang Jernih. Untuk sampai ke desa tersebut satu-satunya jalur yang bisa ditempuh adalah melewati sungai dengan sarana transportasi boat dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam dari Simpang Jernih.
Jarak tempuh tersebut juga dipengaruhi oleh debit air sungai, jika arusnya deras waktu tempuhnya bisa lebih lama. Tapi jika kondisinya normal, bisa dicapai dalam waktu sekitar satu jam. Boat yang digunakan warga sebagai alat transportasi hanya boat sederhana. Boat tersebut bukan khusus untuk mengangkut penumpang saja, tetapi juga digunakan untuk mengangkut kayu.
Meski berada di Kabupaten Aceh Timur, satu-satunya akses untuk sampai ke Simpang Jernih adalah melalui Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Jika melewati jalan darat waktu tempuhnya bisa sekitar dua jam lebih. Kondisi jalan menuju ke sana juga tidak bagus. Sementara jika menempuh jalur sungai dibutuhkan waktu sekitar enam jam untuk sampai ke Simpang Jernih.
“Umumnya masyarakat memang naik boat, karena jalan darat juga tidak bagus, baru akhir-akhir ini saja jalannya lumayan,” kata Zulfikar Fauzi, guru SMPN1 Simpang Jernih kepada ATJEHPOSTcom melalui telepon selular siang tadi, Rabu, 28 November 2012.
Sungai Tamiang kata Fikar, terpecah menjadi dua yaitu Simpang Kanan dan Simpang Kiri. Rute yang dilalui menuju Simpang Jernih melewati jalur Simpang Kanan yang berhulu ke Pinding di Kabupaten Gayo Lues. Sedangkan hilirnya bermuara ke Kecamatan Seruway di Kabupaten Aceh Tamiang.
Pada Senin petang, 26 November 2012 kemarin sebuah boat tenggelam di kawasan Batu Katak. Boat tersebut membawa empat guru Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T), seorang warga dan seorang juru kemudi boat. Mereka baru saja kembali dari Aceh Tamiang karena ada pertemuan yang harus diikuti dua hari sebelumnya.
"Dua dari guru tersebut selamat karena sempat berpegangan pada jerigen, kemudian ada boat lain yang melintas di sana dan menolong mereka," katanya.
Pada hari naas itu, kata Fikar, kondisi arus sungai memang sedang deras. Meskipun hari itu tidak hujan namun beberapa hari sebelumnya kawasan itu terjadi hujan. Di hulu sungai itu juga, tepatnya di sungai Celike, yang membelah Pinding-Lokop antara Kabupaten Gayo Lues-Aceh Timur, mobil yang ditumpangi kepala BPBA hanyut diterjang arus. Baca: Mobil yang Ditumpangi Kepala BPBA Hanyut Diterjang Arus Deras Sungai Celike
Sedangkan lokasi kejadian di kawasan Batu Katak tersebut memang dikenal sebagai daerah yang rawan. Karena lokasi sungai diapit oleh gunung batu yang terjal, dan membentuk seperti terowongan. "Di kawasan itu juga agak gelap, biasanya masyarakat selalu mengusahakan untuk tidak melakukan perjalanan di malam hari," kata Fikar.[] (ihn)

Sumber:

Pembantu Rektor 3 Unsyiah: Ada 300 Lebih Peserta SM3T Asal Aceh

BANDA ACEH -  Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan atau Purek 3 Unsyiah, Rusli Yusuf, Rabu 28 November 2012, mengatakan ada 300 lebih peserta SM3T asal Aceh yang kini sedang mengabdi di daerah lain.
"Untuk 300 peserta SM3T dari Aceh, ditempatkan di Pontianak, Riau, dan NTB," kata Rusli Yusuf, kepada ATJEHPOSTcom.
Menurutnya, awalnya, ada  sekitar 1000 peserta yang mengikuti testing program SM3T. Tetapi setelah diverifikasi, hanya sekitar 300 orang lebih yang mengikuti program SM3T.
Mereka, kata Rusli, dikirim ke beberapa daerah yang sudah ditetapkan selama satu tahun. Setelah  dididik lagi di universitas dan akhirnya akan menjadi Pegawai Negeri Sipil.
"Tenaga program SM3T yang dari Aceh, akan diletakkan di seluruh Aceh selesai Penugasan nanti, dan mereka akan menjadi pegawai pusat," ujarnya.(mrd)

Sumber:

Pembantu Rektor 3 Unsyiah; Program SM3T Penanggungjawab Utamanya Dikti



BANDA ACEH – Pembantu Rektor tiga Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Bidang Kemahasiswaan, Rusli Yusuf, menyatakan keprihatinannya atas musibah yang menimpa guru muda program SM3T di Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.
Program tersebut katanya penanggung jawab utamanya adalah pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI).  "Semua keperluan yang dibutuhkan oleh tenaga ditanggung oleh Dikti," ujarnya kepada ATJEHPOSTcom, Rabu, 28 November 2012.

Selain itu, dia juga mengatakan untuk kasus yang menimpa tenaga guru SM3T di Aceh Timur, pihak Unsyiah tidak bertanggung jawab.

"Itu tanggung jawab dari kerjasama pihak UPI , Unimed  dengan daerah yang bersangkutan, dan tetap menjadi penanggung jawab utama adalah DIKTI," ujarnya kepada atjeh post.

Dia juga menambahkan jika hal itu terjadi dengan tenaga SM3T dari Aceh didaerah lain maka itu tanggung jawab Unsyiah dengan daerah yang ditetapkan.

"Karena pada awalnya kita melakukan kerja sama dengan daerah yang akan ditetapkan, sebelum kita mengirim tenaga SM3T, ke daerah tersebut," ujarnya.[] (ihn)

Sumber:

Winda Yulia, Guru Sarjana Mendidik yang Tenggelam di Simpang Jernih

Written By Irfan Dani on Wednesday, November 28, 2012 | 5:00 PM

 

Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Teritinggal (SM3T) yang dicanangkan oleh pemerintah memberikan dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Namun, tidak semua guru tertarik untuk mengikuti program ini, wajar mengingat daerah penempatannya sangat minim fasilitas.
Di Provinsi Aceh, salah satu daerah yang menjadi tempat guru-guru tersebut mengabdi adalah Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Di kecamatan ini terdapat delapan desa, salah satunya adalah Melidi.
Di Melidi inilah ditempatkan empat guru sarjana mendidik, mereka mengajar di SMPN2 Simpang Jernih. Empat guru tersebut adalah Geugeut Zaludiosanusa Annafi, Winda Yulia dan Hanafi dai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, seorang lagi bernama Irma Yuna dari Universitas Negeri Medan (Medan, Sumatera Utara).
Pada Senin, 26 November 2012 petang lalu keempat guru tersebut mengalami musibah di sungai Simpang Jernih, saat akan kembali ke Melidi boat yang mereka tumpangi terbalik di kawasan Batu Katak. Dua guru tersebut, irma Yuna dan Hanafi selamat dari musibah tersebut. Sedangkan dua lainnya, Gegeut dan Winda hingga hari ini belum diketahui keberadaanya.
Dari berbagai informasi yang dihimpun oleh ATJEHPOSTcom, Winda Yulia berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Ia lahir pada 27 Juli 1990 silam. Winda merupakan alumni UPI angkatan tahun 2008 Jurusan Pendidikan Matematika.
Di kampus Winda tercatat sebagai mahasiswa yang berprestasi, ia pernah meraih Honorable Mention ON MIPA-PT bidang Matematika. Ia juga pernah mendapatkan Juara 3 OSN PTI Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahun 2011. Guru muda tersebut juga pernah mendapat Juara 3 Olimpiade Sains Teknologi Nasional 2011, dan beberapa prestasi lainnya.
Dengan prestasi tersebut, Winda ingin ilmunya berguna bagi bangsa Indonesia, salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan mengikuti program SM3T.[] (ihn)

Sumber:

[FOTO]: Sebelum Musibah, Guru Sarjana Mendidik Sempat Berfoto

 

Empat guru Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) yang ditempatkan di Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur pada Senin petang 26 November 2012 lalu mengalami musibah, boat yang mereka tumpangi tak sanggup melawan arus sungai yang deras.
Akibatnya boat terbalik dan seluruh penumpang kapal yang berjumlah enam orang tenggelam. Empat guru tersebut adalah Geugeut Zaludiosanusa Annafi, Winda Yulia dan Hanafi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, seorang lagi bernama Irma Yuna dari Universitas Negeri Medan (Medan, Sumatera Utara).
Sedangkan dua korban tenggelam lainnya adalah Martani, warga setempat dan Ahmad, juru kemudi/tekong boat. Pagi tadi Ahmad ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa lagi. Hingga kini keberadaan tiga orang yang hilang tersebut masih dalam pencarian.
Sebelum berangkat, guru-guru tersebut sempat berfoto untuk mengabadikan momen tersebut. Dalam foto yang diterima ATJEHPOSTcom mereka terlihat ceria. Ketika boat yang mereka tumpangi sudah jalan, salah seorang dari mereka juga sempat mengambil foto. Dalam foto terlihat air sungai yang kecokelatan dan di depan mereka terdapat hutan. Berikut foto-fotonya:


Ini Kronologi Tenggelamnya Guru Sarjana Mendidik di Simpang Jernih


IDI RAYEUK – Hingga sore ini dua guru Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) yang tenggelam kemarin sore di sungai Simpang Jernih, pedalaman Kabupaten Aceh Timur belum ditemukan.
Informasi dihimpun ATJEHPOSTcom hari ini, Selasa, 27 November 2012, peristiwa naas tersebut berawal sekitar pukul 17.00 wib ketika boat yang ditumpangi empat orang guru SM3T yang mengajar di SMP N 2 Simpang Jernih tenggelam.
Empat guru tersebut adalah Geugeut Zaludiosanusa Annafi, Winda Yulia dan Hanafi dari UPI Bandung, dan seorang lagi Irma Yuna dari UNIMED Medan. Namun, Hanafi dan Irma Yuna selamat karena saat musibah itu terjadi keduanya sempat berpengangan pada jerigen minyak.
Sedangkan dua guru lainnya tenggelam dan belum ditemukan hingga hari ini, selain dua guru tersebut juga ada dua warga lainnya, yaitu Martani dan Ahmad yang berprofesi sebagai sopir boat.
Hingga kini pihak Satgas SAR dan BPBD Kabupaten Aceh Timur terus melakukan pencarian sejak Senin malam. Para tim menyusuri kawasan sungai untuk melakukan evakuasi.
Geugeut mengajar di SMPN 2 Simpang Jernih dengan bidang studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi. Sementara Winda Yulia memegang bidang studi matematika.
Berdasarkan penjelasan dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Timur, Elfiandi, keempat guru tersebut hendak mengajar ke SMPN 2 Simpang Jernih, di Desa Melidi, Kabupaten Aceh Timur.
Saat ini kata Elfiandi di lokasi kejadian yang ikut melakukan pencarian ada Sekda Aceh Timur Syaifannur, Kepala Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pemadam Kebakaran M Ichsan Ahyar, Asisten II dan tim SARah Banda Aceh, Tim Sar Aceh Timur dan warga setempat.[] (ihn)

Sumber:

Guru Sarjana Mendidik Tenggelam di Aceh Timur, Kementerian Pendidikan Kirim Tim Pemantau

JAKARTA - Terkait musibah yang menimpa dua tenaga guru dari program Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan, Tertinggal (SM3T), pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengirimkan utusan untuk memantau di lokasi kejadian.
Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, kepada ATJEHPOSTcom melalui saluran telepon mengatakan koordinasi lekas dilakukan oleh Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dirjen Dikti Kemendikbud, Profesor Supriadi Rustad.
“Jadi Pak Supriadi sedang membahas musibah ini di Dikti, namun demikian Kemendikbud sudah mengirim utusan atau perwakilan dari LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan), baik dari UPI maupun Unimed. Mereka sudah sampai lokasi untuk meninjau atau memantau kejadian ini,” ungkap Ibnu Hamad di Jakarta, Rabu sore, 28 November 2012.
Ibnu menambahkan, Profesor Supriyadi telah mengetahui musibah itu sejak Selasa.
“Profesor Supriyadi sudah terima kabar, bahwa mereka sedang dalam persiapan memperingati Hari Guru lalu kapal yang mereka tumpangi itu tenggelam. Tetapi dari UPI kabarnya belum ditemukan,” ujar Ibnu Hamad.
Dua orang guru program SM3T yang belum ditemukan tersebut bernama Geugeut Zaludiosanusa Annafi dan Winda Yulia dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.[] (ihn)

Sumber:

Di Aceh Timur, HUT PGRI Diperingati dengan Suasana Berkabung


IDI RAYEUK – Peringatan Haru Guru Nasional ke-67 yang ditandai dengan upacara di Lapangan Titi Baroe Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur hari ini diwarnai dengan suasana berkabung, Selasa, 27 November 2012.
Hal itu terjadi karena dua orang guru SMP3T di Kecamatan Simpang Jernih, tenggelam akibat boat yang mereka tumpangi karam di sungai Simpang Jernih pada Senin kemarin, 26 November 2012. Dua guru tersebut adalah Geget dan Winda, hingga kemarin siang keberadaan kedua guru tersebut belum diketahui.
Dalam upacara PGRI tersebut, para guru, pelajar, dan muspida/muspika serta kepala SKPK tampak memanjatkan doa untuk kedua guru tersebut. Suasana hening mewarnai seluruh peserta upacara saat Sekda Aceh Timur Syaifannur yang bertindak sebagai pembina upacara memimpin hening cipta.
Sekda yang membacakan pidato Menteri Pendidikan Muhammad Nuh, menyorot soal profesi guru dengan segala konsekwensinya (terutama peningkatan kesejahteraan) apakah sudah mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
“Jawavabannya tentu iya, peningkatan kesejahteraan guru mampu meningkatkan kualitas pendidikan, meskipun belum signifikan. Masih ada ruang yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dari aspek peran guru,” kata Syaifannur.
Aspek tersebut yaitu kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar, pedagogi, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Dalam kurikulum 2012 yang sekarang sedang dirampungkan, pendekatan yang digunakan adalah berbasis sains. Yaitu mendorong siswa agar mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar dan mempresentasikan.
Puncak peringatan HUT PGRI tersebut juga ditandai dengan penyerahan bingkisan kepada puluhan guru berprestasi dari tujuh UPT Disdik Aceh Timur yang diserahkan langsung oleh Sekda.
“Sejak kemarin sore kita telah memerintahkan semua unit SAR beserta peralatan untuk bergerak melakukan pencarian terhadap korban tenggelamnya boat tersebut. Saat ini kita terus memantau situasi terkini pencarian korban melalui tim SAR dan pihak Dinas Pendidikan yang masih berada di lokasi,” kata Sekda.
Adapun tujuh UPT tersebut masing masing Idi, Ranto Peureulak, Peureulak, Darul Aman, Julok, Simpang Ulim dan Rantau Selamat. Diantara guru berprestasi dari UPT Idi yang menerima bingkisan adalah Lelawati SPdI (MAN Idi), Darmawati Ama.Pd (SMPN Idi), Jauhari SAg (MIN Idi), Hasrati (MTsNn Idi ) dan lainnya.[] (ihn)

Sumber:

Guru Sarjana Mendidik Tenggelam di Simpang Jernih Aceh Timur

IDI RAYEUK – Dua guru Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) gelombang kedua yang mengajar di SMPN 2 Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur kemarin sore, Senin, 26 November 2012, hilang akibat boat yang mereka naiki tenggelam di sungai Simpang Jernih, di kawasan Desa Batu Katak, Kabupaten Aceh Timur.
Dua guru tersebut adalah Geugeut Zaludiosanusa Annafi dan Winda Yulia dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Hingga hari ini, Selasa, 27 November 2012 keberadaan dua guru tersebut belum diketahui.
Peristiwa itu menimbulkan kesedihan yang mendalam, khususnya bagi para guru di Kabupaten Aceh Timur. Dalam upacara peringatan Hari Guru hari ini di Aceh Timur, suasana berkabung turut mewarnai. Para guru juga memanjatkan doa dan melakukan hening cipta bersama.
Sejak kemarin sore tim SAR Aceh Timur telah turun ke lokasi untuk melakukan pencarian.[] (ihn)

Sumber:

 

Gurunya Ditimpa Musibah, Apa Itu Program Sarjana Mendidik?


BANDA ACEH – Empat guru Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) mengalami musibah setelah boat yang mereka tumpangi terbalik di sungai Simpang Jernih, pedalaman Aceh Timur. Dua diantara masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Aceh Tamiang, dua lainnya hingga siang ini, 28 November 2012, belum ditemukan. Seperti apa program sarjana mendidik?
Program SM3T adalah program yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan melalui Dirjen Perguruan Tinggi. Program ini dimaksudkan sebagai program pengabdian Sarjana Pendidikan dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal. Masa baktinya selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik professional yang akan berlanjung dengan Program Pendidikan Profesi Guru.

Program SM3T mulai digulirkan pemerintah pada tahun lalu. Angkatan pertama program ini melibatkan sekitar 2600 sarjana untuk didistribusikan ke daerah yang digolongkan sebagai "terdepan, terluar, dan tertinggal." Tahun ini, jumlah sarjana yang akan berpartisipasi dalam program SM3T bertambah hingga sekitar 3.500-4.000 sarjana. Penambahan itu ditujukan untuk menutup 2.600 jumlah tenaga pendidik di gelombang pertama, ditambah perluasan wilayah baru.
Program ini dilaksanakan di empat provinsi: Aceh, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua. Dari empat provinsi ini, dipilih lagi sejumlah kabupaten. Di Aceh, kabupaten yang menyelenggaran program Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) adalah: Simeulue, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Timur, Aceh Besar, Aceh Barat, Gayo Lues, dan Pidie Jaya.
Program ini berbeda dengan program Indonesia Mengajar yang digagas Rektor Universitas Madina, Anis Baswedan. Indonesia Mengajar membantu mengisi kekurangan guru sekolah dasar, terutama di daerah terpencil dengan mengirim lulusan terbaik Perguruan Tinggi di Indonesia untuk mengajar di selama setahun.[]

Sumber:

Cerita Ellia Guru dari Kupang

Herdiyanti Rohana
Foto : Ellia Sylviana Dewi/Herdiyanti Rohana (Okezone)
Foto : Ellia Sylviana Dewi/Herdiyanti Rohana (Okezone)
JAKARTA - Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru adalah pelita dalam kehidupan. Itulah sepenggalan peribahasa yang sering kita dengar untuk mendeskripsikan jasa seorang guru.
Sosok guru bukan hanya menjadi orangtua di sekolah tetapi guru juga menjadi tauladan sekaligus teman dalam berbagi ilmu. Mengajar, mendidik dan mengasah murid menjadi pintar, itulah tugas dari seorang guru. Cita-cita itulah yang mendasari Ellia Sylviana Dewi (24) mau menekuni profesi mulia tersebut.

Bertahun-tahun mempelajari ilmu pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha,  Bali. Dia memilih  spesifikasi Jurusan Pendidikan Biologi. Beratus-ratus tugas pun dikerjakan sampai akhirnya dia berhasil menyandang gelar sarjana.

Ellia merintis karier sebagai guru pada 2012. Dia awalnya hanya iseng mendaftar Seleksi Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T). Tidak disangka dia lolos seleksi SM-3T angkatan pertama.

Ellia pertama kali ditugaskan di daerah Kupang, NTT. "Ketika nama saya lolos, saya langsung membayangkan daerah tersebut seram dan ekstrim," ujar anak pertama dari empat bersaudara, kepada Okezone, di Jakarta, belum lama ini.

Ternyata itu hanya dugaan semu. Setelah Ellia tiba di lokasi penugasan, ternyata lingkungannya jauh dari yang dibayangkankan. "Di sana kita diperlakukan ibarat raja. Apapun yang kita perlukan mereka sediakan. Sampai air pun mereka bawakan," ucapnya.

Kendati sambutan warga sangat baik, namun di hati kecilnya, Ellia tetap saja merasa lingkungan tersebut tetaplah asing. Sebab, dia harus hidup jauh dari orangtua. "Itulah yang sebenarnya saya rasakan. Perlahan semua itu hilang dengan melihat lingkungan yang begitu ramah dan asik. Semangat mengajar pun tinggi, semangat untuk mencerdaskan anak bangsa," kata Elliana yang mengaku kondisi Kupang sangat gersang.

Untuk merealisasikan dirinya sebagai guru, dia pun harus banyak beradaptasi. Contoh kecil, antara lain perbedaan jenis makanan yang dikonsumsi antara di Kupang dan di rumahnya. "Tetapi perlahan saya pun jadi biasa. Dulu saya makan buah inang terasa kecut, namun karena saya sering makan dan terbiasa, eh lama-lama enak, serasa jambu biji," cerita Ellia.

Suka dan duka pun dialami Ellia selama satu tahun menjadi guru di Kupang, namun program tersebut hanya berlangsung tahun. Sayangnya dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Kupang.

"Saya tidak mau meninggalkan desa ini, saya sudah betah. Namun saya harus mengikuti program Pendidikan Profesi Guru Terpadu (PPG-T) yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)," dia menjelaskan.

Selama mengabdi di Kupang nan gersang, menurut dia, ada satu cerita yang tidak bisa dia lupakan, yaitu saat dia tidak bisa menyelamatkan salah satu nasib anak muridnya yang jatuh tertindih reruntuhan dinding rumahnya. Padahal dia berusaha sekuat tenaga menyelamatkan dan mengobati muridnya.

Beruntung, keesokan harinya sang anak didik itu sembuh. "Tapi kesembuhan murid saya itu, sembuh untuk meninggal. Saya sangat terpukul dia meninggal," cerita Ellia.

Namun, kematian muridnya itu bukan hanya karena sakit akibat tertimpa reruntuhan. Selain tertimpa reruntuhan, anak didik Elia itu juga mengalami komplikasi.
(mrg)
 
Sumber:
okezone.com
 
 
New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP
Radio Streaming PPG SM-3T UNP
 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org